12 November 2025

Bacaan Nabr dalam Ilmu Tajwid

Para pengkaji tajwid mungkin sebagian masih belum pernah mendengar kata Nabr atau an-Nabr. Pembahasan ini dapat menambah wawasan terkait ilmu Tajwid. Apa itu pengertian an-Nabr? Bagaimana cara membacanya dan pada kata apa saja berlaku bacaan Nabr?

Istilah ini dapat ditemukan dalam buku tajwid karya Ayman Rusydi Suwaid yang dikutip oleh kitab tajwid lain seperti kitab al-Mufid fi Ilm at-Tajwid. Artikel ini bersumber dari kitab at-Tajwid al-Mushawwar karya Ayman Suwaid.

Pengertian an-Nabr

Secara bahasa, Nabr atau an-Nabr (النبر) berarti dorongan atau lengkingan yang kuat. Secara istilah, bacaan an-Nabr adalah penekanan pada suku kata atau huruf tertentu sehingga suaranya sedikit lebih kuat dibandingkan dengan huruf-huruf di sekitarnya.

Istilah Nabr biasanya dikenal dan digunakan dalam ilmu fonetik atau aswat. Oleh karena itu, istilah ini terkesan baru dalam ilmu Tajwid. Namun sebenarnya, praktik bacaan an-Nabr telah dilakukan sejak lama.

Suwaid membuktikan dengan adanya penjelasan Makki al-Qays dalam kitabnya berjudul "ar-Riayah." Selain itu juga penjelasan dari para guru-gurunya terkait bab ini. Suwaid juga menjelaskan bahwa bacaan ini muncul disebabkan alasan lafal. 

Hemat penulis, bacaan an-Nabr adalah penekanan suara pada bacaan atau huruf tertentu dengan tujuan untuk menunjukkan huruf atau tanda tertentu misalnya tasydid maupun huruf yang sulit dibaca, yang akan dijelaskan pada lima sebab an-Nabr.

Perhatian! Untuk lebih jelas dan lengkap terkait pembahasan dan praktik bacaan an-Nabr, silakan untuk bertalaqqi (belajar secara tatap muka) secara langsung kepada guru al-Quran di sekitar Anda

Lima Sebab an-Nabr

Pertama, membaca Nabr pada huruf tasydid yang diwaqaf. Hal ini terjadi karena tidak jelasnya huruf tasydid saat waqaf sehingga perlu dilakukan an-Nabr. Perhatikan contoh di bawah ini dan baca dengan waqaf.

وَمَا كَانَ لِنَبِىٍّ أَن يَغُلَّ

Huruf terakhir atau yang dibaca waqaf pada potongan ayat di atas adalah huruf lam bertasydid. Biasanya, banyak para pembaca al-Quran yang tidak memperhatikan sehingga tasydidnya tidak terbaca seolah-olah tidak ada tasydid. Oleh karena itu, perlu dibaca Nabr.

Hal ini tidak berlaku jika huruf tasydid yang diwaqaf itu adalah huruf qalqalah dan ghunnah. Tidak berlaku untuk huruf qalqalah karena jelas dalam pengucapan. Sedangkan huruf ghunnah juga jelas saat dibaca waqaf.

Kedua, saat membaca huruf wawu atau ya yang bertasydid. Ini dibutuhkan agar bacaan tasydidnya tidak samar dan jelas pengucapannya. Jika tidak jelas, maka terdengar seolah-olah huruf wawu atau ya dibaca panjang tanpa ada tasydid. Berikut contohnya

وَإِذَا حُيِّيتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا۟ بِأَحْسَنَ مِنْهَآ أَوْ رُدُّوهَآ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ حَسِيبًا

Ketiga, saat berpindah antara mad ke tasydid. Ini berlaku pada bacaan Mad Lazim Mutsaqqal karena terjadinya huruf mad yang bertemu dengan tasydid. Jika tidak dijelaskan, maka tasydidnya tidak terbaca dan hanya sekedar membaca Mad. Berikut contohnya

صِرَٰطَ ٱلَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ ٱلْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا ٱلضَّآلِّينَ

Keempat, saat waqaf pada hamzah yang didahului oleh mad atau lin. Kasus ini dapat terjadi pada hukum Mad Wajib Muttashil dan Mad Lin. Bacaan an-Nabr berfungsi menjelaskan adanya hamzah sebagai huruf terakhir sebuah kata. Berikut contohnya

وَيُعَذِّبَ ٱلْمُنَٰفِقِينَ وَٱلْمُنَٰفِقَٰتِ وَٱلْمُشْرِكِينَ وَٱلْمُشْرِكَٰتِ ٱلظَّآنِّينَ بِٱللَّهِ ظَنَّ ٱلسَّوْءِ

Kelima, saat membaca kata yang sama pengucapannya dengan keadaan tunggal. Kata ini hanya ada 4 dalam al-Quran yaitu kata dzaqa (QS Al-A'raf ayat 22), istabaqa (Yusuf ayat 25), qala (An-Naml ayat 15), dan sholih (At-Tahrim ayat 4). Perhatikan kata qala dalam surat an-Naml di bawah ini

وَقَالَا ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى فَضَّلَنَا

Kata qala pada ayat di atas berbentuk tatsniyyah (dwi) sehingga artinya "dua orang laki-laki telah berkata." Ini serupa dengan bentuk tunggalnya yang artinya "satu orang laki-laki telah berkata." Ayat di atas jika diubah ke bentuk tunggal kurang lebih seperti ini

وَقَالَ ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى فَضَّلَنَا

Karena bacaan pada kata qala-nya serupa baik pada mode tunggal dan dwi, maka perlu ditekan suaranya atau Nabr untuk menunjukkan adanya perbedaan. Untuk lebih jelasnya dapat langsung bertanya kepada para ahli al-Quran.

Berikut kata dzaqa dalam QS Al-A'raf ayat 22

فَدَلَّىٰهُمَا بِغُرُورٍ ۚ فَلَمَّا ذَاقَا ٱلشَّجَرَةَ بَدَتْ لَهُمَا سَوْءَٰتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ ٱلْجَنَّةِ ۖ وَنَادَىٰهُمَا رَبُّهُمَآ أَلَمْ أَنْهَكُمَا عَن تِلْكُمَا ٱلشَّجَرَةِ وَأَقُل لَّكُمَآ إِنَّ ٱلشَّيْطَٰنَ لَكُمَا عَدُوٌّ مُّبِينٌ

Berikut kata istabaqa QS Yusuf ayat 25

وَٱسْتَبَقَا ٱلْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيصَهُۥ مِن دُبُرٍ وَأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَا ٱلْبَابِ ۚ قَالَتْ مَا جَزَآءُ مَنْ أَرَادَ بِأَهْلِكَ سُوٓءًا إِلَّآ أَن يُسْجَنَ أَوْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Berikut kata sholih dalam QS At-Tahrim ayat 4

إِن تَتُوبَآ إِلَى ٱللَّهِ فَقَدْ صَغَتْ قُلُوبُكُمَا ۖ وَإِن تَظَٰهَرَا عَلَيْهِ فَإِنَّ ٱللَّهَ هُوَ مَوْلَىٰهُ وَجِبْرِيلُ وَصَٰلِحُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ۖ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةُ بَعْدَ ذَٰلِكَ ظَهِيرٌ

Demikian artikel berjudul "Bacaan Nabr dalam Ilmu Tajwid". Anda dapat mengakses artikel tajwid lainnya dengan cara KLIK DI SINI. Anda juga dapat memberikan saran, masukan, atau pertanyaan dengan cara menulisnya di kolom komentar. Terima kasih.

Comments

KOMENTARMU ADALAH DOAMU!
-
-
NB : Admin tdk dpt balas komentar karna error. Silahkan chat via ikon FB Messenger di pojok kanan bawah atau email ke yatlunahuhaq[at]gmail[dot]com untuk fast respon
EmoticonEmoticon