Ringkasan Kitab ar-Raid Fi Tajwid al-Quran (Bag-1)

Ringkasan Kitab ar-Raid Fi Tajwid al-Quran (Bag-1) -

Salah satu kitab Tajwid ringkas yang dapat dengan mudah dipelajari adalah kitab ar-Raid Fi Tajwid al-Quran. Kitab ar-Raid Fi Tajwid al-Quran ini memiliki 88 halaman dan merupakan salah satu karya dari Dr. Muhammad Salim Muhaysin.

Kitab ar-Raid Fi Tajwid al-Quran di publish pada tahun 2002 M atau 1423 H oleh Dar Muhaysin li at-Thaba'ah wa an-Nashr wa at-Tawzigh di Kairo, Mesir. Kitab ar-Raid Fi Tajwid al-Quran ini cukup mudah dibaca dan ringan dipelajari.

Dalam kitab nya, penulis tidak menemukan daftar isi Kitab yang terkadang diletakkan di bagian depan atau belakang Kitab. Berikut daftar Isi kitab ar-Raid Fi Tajwid al-Quran yang penulis kumpulkan sesuai urutan dalam isi nya :

  1. Muqaddimah Ilmu Tajwid
  2. Isti'adzah
  3. Basmalah
  4. Nun sukun dan Tanwin
  5. Hukum Nun dan Mim bertasydid
  6. Hukum-hukum Mim sukun
  7. Hukum Lam AL
  8. Hukum Lam Fi'il
  9. Hukum Lam Hal dan Bal
  10. Mad dan Qashr
  11. Mad Lazim
  12. Mad Aridh Lissukun
  13. Bab Waqaf dan Ibtida
  14. Makharijul Huruf
  15. Laqab-laqab Huruf
  16. Sifat Huruf
  17. Pembagian Sifat Huruf
  18. Tafkhim dan Tarqiq
  19. Maqthu dan Mawshul
  20. Ha Ta'nis yang ditulis Ta
  21. Hamzah Washal
  22. Hadzf dan Itsbat

Dari 22 judul pembahasan di atas, penulis akan menampilkan uraian-uraian tertentu dan akan dibagi dalam 2 bagian atau artikel. Di ringkasan Kitab ar-Raid Fi Tajwid al-Quran (Bag-1) ini akan memaparkan sebagian dari daftar isi yang ada.



Para pembaca juga dapat melihat ringkasan kitab-kitab tajwid lainnya atau dapat juga melihat daftar kitab-kitab tajwid yang juga menjadi bahan bacaan penulis, dengan cara mengunjungi Daftar Kitab-Kitab Tajwid atau klik di sini.

1. Isti'adzah

Hukum isti'adzah adalah mustahabbah (disunnahkan). Ada yang mengatakan, wajib ketika hendak membaca bagian apapun dari al-Quran. Ucapan yang paling dipilih adalah A'udzu billahi minas-syaythanir-rajim.

2. Basmalah

Tidak ada perbedaan terkait membaca Basmalah di awal surat karena terdapat penulisan basmalah di setiap awal surat, kecuali surat Bara'ah  Sedangkan surat Bara'ah tidak diperbolehkan membaca Basmalah di awal surat disebabkan 1) tidak ada penulisan basmalah di awal surat nya, dan 2) karena Bara'ah diturunkan terkait dengan peperangan. Disunnahkan juga membaca basmalah di bagian manapun selain awal surat.

3. Hukum Nun dan Mim bertasydid

Untuk nun dan mim bertasydid memiliki satu hukum yaitu hukum bacaan Ghunnah. Ghunnah secara bahasa berarti berdendang. Secara istilah adalah suara merdu yang muncul di dalam pengucapan nun dan mim.

4. Hukum Lam Fi'il

Lam Fi'il adalah lam sukun yang terletak di akhir atau tengah fi'il (kata kerja). Hukumnya ada dua yaitu Idgham dan Idzhar. Lam fi'il dibaca Idgham apabila bertemu huruf lam dan ro. Sedangkan Lam fi'il dibaca Idzhar apabila bertemu selain huruf lam dan ro.

5. Mad dan Qashr

Mad secara bahasa berarti tambahan. Secara istilah adalah memanjangkan suara sebab huruf mad. Mad terbagi menjadi dua yaitu Asli dan Far'i. Mad Asli adalah Mad yang tidak bertemu sebab lainnya seperti hamzah dan sukun. 

Sedangkan Mad Far'i adalah Mad yang bertemu sebab lainnya seperti hamzah dan sukun. Mad Far'i terbagi menjadi 6 macam, yaitu Munfashil, Muttashil, Lazim, Badal, Lin, dan Aridh Lissukun.

6. Waqaf dan Ibtida

Waqaf secara bahasa adalah menahan. Secara istilah adalah Memutus suara dari membaca dalam waktu sejenak untuk bernafas disertai dengan niat melanjutkan bacaan. Waqaf terbagi menjadi 4 macam, yaitu Tam, Kaf, Hasan, dan Qabih.

7. Tafkhim dan Tarqiq

Tafkhim dan Taghlidz merupakan dua kata yang serupa makna nya. Namun hanya berbeda dalam penggunaan karena sudah populer. Kata Tafkhim lebih populer untuk bab Ro, sedangkan kata Taghlidz lebih populer untuk bab Lam.

Huruf-huruf hijaiyah terbagi menjadi 3 bagian jika ditinjau dari segi Tafkhim dan Tarqiq nya, yiatu huruf yang selalu Tafkhim, huruf yang selalu Tarqiq, dan huruf yang dapat menjadi Tafkhim dan Tarqiq. 



Huruf yang dapat menjadi Tafkhim dan Tarqiq ada 3 huruf yaitu alif, lam, dan ro. Alif dibaca Tafkhim apabila huruf sebelumnya merupakan huruf Tafkhim, begitu pula sebaliknya Tarqiq. Huruf Lam yang dapat menjadi Tafkhim dan Tarqiq adalah yang terdapat dalam kata "Allah".

Demikian artikel berjudul Ringkasan Kitab ar-Raid Fi Tajwid al-Quran (Bag-1). Ringkasan-ringkasan berikutnya akan dipaparkan di artikel Bagian kedua. Anda juga dapat membaca ringkasan kitab-kitab lainnya, dengan cara mengunjungi Daftar Kitab-Kitab Tajwid atau klik di sini.

Contoh Mad Shilah Qashirah di Juz 30

Contoh Mad Shilah Qashirah di Juz 30 -

Dalam kategori "Contoh", penulis akan memaparkan atau memberikan contoh-contoh mengenai hukum bacaan atau uraian tajwid suatu ayat. Kali ini adalah contoh hukum bacaan Mad Shilah Qashirah. Para pembaca juga bisa request contoh hukum bacaan.

Dalam contoh hukum bacaan Mad Shilah Qashirah kali ini, penulis mulai dari hukum bacaan Mad Shilah Qashirah yang ada di juz 30 atau biasa disebut juz Amma. Dipilih dari Juz Amma terlebih dahulu, agar para pembaca lebih mudah mencari nya.


Hukum bacaan Mad Shilah Qashirah adalah apabila ada ha; dhamir (kata ganti) yang dibaca panjang dan tidak bertemu dengan hamzah. Apabila bertemu hamzah, maka berubah menjadi Mad Shilah Thawilah. Cara membaca Mad Shilah Qashirah adalah dengan membaca panjang sekitar 2 harakat atau 1 alif (sama dengan Mad Thabi'i).

Contoh hukum bacaan Mad Shilah Qashirah cukup banyak dan cukup mudah ditemukan di dalam al-Quran. Untuk mencari hukum bacaan Mad Shilah Qashirah, perhatikan ha' dhamir (kata ganti) yang dibaca panjang dan tidak bertemu dengan hamzah (bukan Mad Shilah Thawilah).

Berikut contoh hukum bacaan Mad Shilah Qashirah dalam Juz 30 lengkap nama surat dan nomor ayatnya. Cukup banyak contoh Mad Shilah Qashirah di Juz 30 yang ditemukan penulis. Kata berwarna merah dalam ayat adalah kata yang terdapat ha dhamir dan mengandung hukum bacaan Mad Shilah Qashirah.

1. QS An-Naba ayat 15 (ha dhamir kasrah)

لِّنُخْرِجَ بِهٖ حَبًّا وَّنَبَاتًاۙ

2. QS An-Naba ayat 39 (ha dhamir kasrah)

ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا


3. QS An-Nazi'at ayat 16 (ha dhamir dhammah)

اِذْ نَادٰىهُ رَبُّهٗ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًىۚ

4. QS An-Nazi'at ayat 17 (ha dhamir dhammah)

اِذْهَبْ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰىۖ

5. QS An-Nazi'at ayat 40 (ha dhamir kasrah)

وَاَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهٖ وَنَهَى النَّفْسَ عَنِ الْهَوٰىۙ

6. QS Abasa ayat 3 (ha dhamir dhammah)

وَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّهٗ يَزَّكّٰىٓۙ

7. QS Abasa ayat 6 (ha dhamir dhammah)

فَاَنْتَ لَهٗ تَصَدّٰىۗ

8. QS Abasa ayat 19 (ha dhamir dhammah)

مِنْ نُّطْفَةٍۗ خَلَقَهٗ فَقَدَّرَهٗۗ

9. QS Abasa ayat 21 (ha dhamir dhammah)

ثُمَّ اَمَاتَهٗ فَاَقْبَرَهٗۙ

10. QS Abasa ayat 35 (ha dhamir kasrah)

وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ

11. QS Abasa ayat 36 (ha dhamir kasrah)

وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ

12. QS at-Takwir ayat 19 (ha dhamir dhammah)

اِنَّهٗ لَقَوْلُ رَسُوْلٍ كَرِيْمٍۙ

13. QS al-Muthaffifin ayat 17 (ha dhamir kasrah)

ثُمَّ يُقَالُ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تُكَذِّبُوْنَۗ

14. QS al-Muthaffifin ayat 26 (ha dhamir dhammah)

خِتٰمُهٗ مِسْكٌ ۗوَفِيْ ذٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُوْنَۗ

15. QS al-Muthaffifin ayat 27 (ha dhamir dhammah)

وَمِزَاجُهٗ مِنْ تَسْنِيْمٍۙ

16. QS al-Insyiqaq ayat 7 (ha dhamir dhammah)

فَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ بِيَمِيْنِهٖۙ

17. QS al-Insyiqaq ayat 9 (ha dhamir kasrah)

وَّيَنْقَلِبُ اِلٰٓى اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ

18. QS al-Insyiqaq ayat 10 (ha dhamir dhammah)

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ وَرَاۤءَ ظَهْرِهٖۙ

19 dan 20. QS al-Insyiqaq ayat 13 (ha dhamir dhammah, ha dhamir kasrah)

اِنَّهٗ كَانَ فِيْٓ اَهْلِهٖ مَسْرُوْرًاۗ

21. QS al-Insyiqaq ayat 14 (ha dhamir dhammah)

اِنَّهٗ ظَنَّ اَنْ لَّنْ يَّحُوْرَ ۛ


22 dan 23. QS al-Insyiqaq ayat 15 (ha dhamir dhammah, ha dhamir kasrah)

بَلٰىۛ اِنَّ رَبَّهٗ كَانَ بِهٖ بَصِيْرًاۗ

24. QS al-Buruj ayat 9 (ha dhamir dhammah)

الَّذِيْ لَهٗ مُلْكُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيْدٌ ۗ

25. QS Al-Buruj ayat 13 (ha dhamir dhammah)

اِنَّهٗ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيْدُۚ

26 dan 27. QS at-Thariq ayat 8 (ha dhamir dhammah, ha dhamir kasrah)

اِنَّهٗ عَلٰى رَجْعِهٖ لَقَادِرٌۗ

28. QS At-Thariq ayat 10 (ha dhamir dhammah)

فَمَا لَهٗ مِنْ قُوَّةٍ وَّلَا نَاصِرٍۗ

29. QS At-Thariq ayat 13 (ha dhamir dhammah)

اِنَّهٗ لَقَوْلٌ فَصْلٌۙ

30. QS Al-A'la ayat 5 (ha dhamir dhammah)

فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰىۖ

31. QS Al-A'la ayat 7 (ha dhamir dhammah)

اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰىۗ

32. QS Al-A'la ayat 15 (ha dhamir kasrah)

وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهٖ فَصَلّٰىۗ

33 - 35. QS Al-Fajr ayat 15 (ha dhamir dhammah, ha dhamir dhammah, ha dhamir dhammah)

فَاَمَّا الْاِنْسَانُ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ رَبُّهٗ فَاَكْرَمَهٗ وَنَعَّمَهٗۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَكْرَمَنِۗ

36. QS Al-Fajr ayat 16 (ha dhamir dhammah)

وَاَمَّآ اِذَا مَا ابْتَلٰىهُ فَقَدَرَ عَلَيْهِ رِزْقَهٗ ەۙ فَيَقُوْلُ رَبِّيْٓ اَهَانَنِۚ

37. QS Al-Balad ayat 8 (ha dhamir dhammah)

اَلَمْ نَجْعَلْ لَّهٗ عَيْنَيْنِۙ

38. QS Al-Lail ayat 7 (ha dhamir dhammah)

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْيُسْرٰىۗ

39. QS Al-Lail ayat 10 (ha dhamir dhammah)

فَسَنُيَسِّرُهٗ لِلْعُسْرٰىۗ

40. QS Al-Lail ayat 18 (ha dhamir dhammah)

الَّذِيْ يُؤْتِيْ مَالَهٗ يَتَزَكّٰىۚ

41. QS Al-Lail ayat 19 (ha dhamir dhammah)

وَمَا لِاَحَدٍ عِنْدَهٗ مِنْ نِّعْمَةٍ تُجْزٰىٓۙ

42. QS Al-Adiyat ayat 4 (ha dhamir kasrah)

فَاَثَرْنَ بِهٖ نَقْعًاۙ

43. QS Al-Adiyat ayat 5 (ha dhamir kasrah)

فَوَسَطْنَ بِهٖ جَمْعًاۙ

44. QS Al-Adiyat ayat 6 (ha dhamir kasrah)

اِنَّ الْاِنْسَانَ لِرَبِّهٖ لَكَنُوْدٌ ۚ


45. QS Al-Adiyat ayat 7 (ha dhamir dhammah)

وَاِنَّهٗ عَلٰى ذٰلِكَ لَشَهِيْدٌۚ

46. QS Al-Adiyat ayat 8 (ha dhamir dhammah)

وَاِنَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ ۗ

47. QS Al-Qari'ah ayat 9 (ha dhamir dhammah)

فَاُمُّهُ هَاوِيَةٌ ۗ

48. QS An-Nashr ayat 3 (ha dhamir dhammah)

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُۗ اِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا

49. QS Al-Lahab ayat 2 (ha dhamir dhammah)

مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَا كَسَبَۗ

50. QS Al-Lahab ayat 4 (ha dhamir dhammah)

وَّامْرَاَتُهٗ ۗحَمَّالَةَ الْحَطَبِۚ

51. QS Al-Ikhlas ayat 4 (ha dhamir dhammah)

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

Demikian artikel berjudul "Contoh Mad Shilah Qashirah di Juz 30". Untuk contoh-contoh hukum bacaan lain, dapat Anda cari di blog ini atau di kategori Contoh atau klik di sini. Para pembaca juga bisa request contoh hukum bacaan yang lain dengan cara berkomentar di bawah ini.

Sifat Takrir dan Inhiraf

Sifat Takrir dan Inhiraf -

Sifat-sifat tidak berlawanan merupakan sifat-sifat yang tidak memiliki pasangan atau lawan dan hanya dimiliki oleh huruf-huruf tertentu. Salah satu nya adalah sifat Takrir dan sifat Inhiraf. Apa itu pengertian sifat Takrir dan Inhiraf? Berikut ulasannya.

Sifat Takrir

Secara bahasa, Takrir atau at-Takrir (التَّكْرِيْر) adalah mengulangi sesuatu, baik pengulangan sekali maupun lebih. Sedangkan secara istilah Ilmu Tajwid, sifat Takrir adalah bergetarnya ujung lidah ketika mengucapkan suatu huruf.

Huruf yang memiliki sifat Takrir adalah huruf ro (ر). Ketika mengucapkan huruf Ro, maka secara otomatis akan menyebabkan getaran pada lidah atau Takrir. Dan maksud dengan adanya sifat Takrir ini, para pembaca agar berhati-hati dan tidak memunculkan sifat Takrir (Getaran berulang). 

Pengucapan huruf Ro hanya membutuhkan satu getaran saja, sehingga apabila sudah melebihi dari satu getaran maka disebut Takrir. Dengan kata lain, semakin banyak getaran yang dihasilkan maka berarti huruf Ro yang dibaca merupakan huruf dobel atau bertasydid. Untuk lebih jelasnya, silahkan talaqqi (bertemu belajar) pada guru-guru al-Quran.

Berikut rincian sifat-sifat yang dimiliki oleh huruf-huruf yang memiliki sifat Takrir :

  1. Ro : Jahr, Tawassuth, Istifal, Infitah, Idzlaq, Inhiraf, Takrir

Sifat Inhiraf

Secara bahasa, Inhiraf atau al-Inhiraf (الإِنْحِرَاف) adalah pindah, condong, atau menyimpang. Sedangkan secara istilah Ilmu Tajwid, sifat Inhiraf adalah condong atau berpindahnya huruf setelah keluar dari makhraj nya. Perpindahan yang dimaksud adalah berpindah ke ujung lidah.



Huruf yang memiliki sifat Takrir ada dua huruf yaitu Lam (ل) dan Ro (ر). Kedua huruf ini apabila diucapkan maka akan terjadi perpindahan dari makhraj nya ke makhraj lainnya. Saat diucapkan, huruf lam berpindah ke ujung lidah, sedangkan huruf ro berpindah ke punggung lidah dan sedikit ke makhraj lam. Untuk lebih jelasnya, silahkan talaqqi (bertemu belajar) pada guru-guru al-Quran.

Berikut rincian sifat-sifat yang dimiliki oleh huruf-huruf yang memiliki sifat Takrir :

  1. Lam : Jahr, Tawassuth, Istifal, Infitah, Idzlaq, Inhiraf
  2. Ro : Jahr, Tawassuth, Istifal, Infitah, Idzlaq, Inhiraf, Takrir

Baca artikel lain nya seputar makhraj dan sifat huruf, silahkan KLIK DI SINI.

Baca artikel lain secara lengkap sesuai tema dan bab nya, silahkan KLIK DI SINI.

Mengenal Ha Dhamir dalam Mad Shilah

Mengenal Ha Dhamir dalam Mad Shilah -

Salah satu hukum bacaan dalam bab Mad yang cukup unik adalah Mad Shilah. Disebut unik karena salah satu syarat dalam Mad Shilah adalah adanya Ha Dhamir. Apa itu Ha Dhamir? Bagaimana Ha Dhamir bisa menjadi Mad Shilah? Dan apa saja pertanyaan-pertanyaan terkait dengan Mad Shilah dan Ha Dhamir?

Apa Itu Ha Dhamir

Secara bahasa, Ha Dhamir terdiri dari dua kata, yaitu Ha dan Dhamir. Ha adalah huruf ha (ه), bukan ha (ح). Sedangkan Dhamir berarti kata ganti. Bab Dhamir merupakan pembahasan dalam Ilmu Nahwu. Ha Dhamir yang dimaksud di Mad Shilah adalah Ha Dhamir Muttashil yang berupa Mufrad Mudzakkar Ghaib.



Dhamir Muttashil adalah kata ganti yang berfungsi sebagai objek atau kata ganti yang tersambung, sehingga Ha Dhamir Muttashil tidak ada di awal kata. Sedangkan kata ganti Mufrad Mudzakkar Ghaib adalah kata ganti ketiga untuk satu laki-laki (baca: Dia). Mufrad berarti tunggal, Mudzakkar berarti laki-laki, sedangkan Ghaib berarti tidak ada di tempat atau orang ketiga. 

Jenis-jenis Dhamir (kata ganti) dibedakan menjadi 3 kelas. Pertama adalah jumlahnya, bisa tunggal (Mufrad), dobel (Mutsanna), dan jamak (Jam'). Kedua adalah jenis kelaminnya, bisa laki-laki (Mudzakkar) dan perempuan (Muannats). Ketiga adalah perspektif nya, bisa orang yang berbicara (Mutakallim), yang diajak bicara (Mukhathab), dan orang ketiga (Ghaib). 

Ha Dhamir yang dimaksud dalam Mad Shilah adalah kata ganti sambung (Dhamir Muttashil) yang berupa Mufrad Mudzakkar Ghaib yang berarti "dia" untuk satu orang laki-laki. Bentuk dari Ha Dhamir yang dimaksud adalah seperti gambar di bawah ini

Ha Dhamir ini di sambung kan setelah kata sehingga terletak di akhir kata. Ha Dhamir selalu berharakat dhammah. Ha Dhamir berubah menjadi harakat kasrah apabila sebelumnya terdapat huruf ya' sukun atau huruf berharakat kasrah.

Ha Dhamir, sesuai namanya, menjukkan makna "dia" untuk 1 orang laki-laki. Atau dalam bahasa Indonesia berarti "-nya". Contoh nya adalah (فِيْ بَيْتِهِ) artinya di dalam rumah nya, atau (أَحْمَدُ يَبِيْعُ سَيَّارَتَهُ) artinya Ahmad menjual kendaraan nya.

Ha Dhamir dalam Mad Shilah

Setelah mengetahuinya apa itu Ha Dhamir, maka bagaimana Ha Dhamir bisa menjadi Mad Shilah? Ha Dhamir yang bisa menjadi Mad Shilah adalah Ha Dhamir yang dibaca panjang. Sebaliknya, Ha Dhamir yang dibaca pendek maka bukan termasuk Mad Shilah.

Panjang pendeknya bacaan Ha Dhamir tergantung pada harakat dan sukun pada huruf sebelum dan sesudah Ha Dhamir.  Apabila dirinci, ada 4 (empat) kondisi Ha Dhamir jika dilihat dari harakat huruf sebelum dan sesudah Ha Dhamir.

1. Huruf sukun sebelum Ha Dhamir dan sesudah nya ada huruf hidup atau berharakat. Contohnya seperti dalam QS Al-Baqarah ayat 19 berikut ini :

أَوْ كَصَيِّبٍ مِنَ السَّمَاءِ فِيهِ ظُلُمَاتٌ وَرَعْدٌ وَبَرْقٌ يَجْعَلُونَ أَصَابِعَهُمْ فِي آذَانِهِمْ مِنَ الصَّوَاعِقِ حَذَرَ الْمَوْتِ ۚ وَاللَّهُ مُحِيطٌ بِالْكَافِرِينَ



2. Huruf berharakat sebelum Ha Dhamir dan sesudah nya ada huruf sukun. Contohnya seperti dalam QS Al-Jatsiyah ayat 37 berikut ini :

وَلَهُ الْكِبْرِيَاءُ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

3. Huruf sukun sebelum dan sesudah Ha Dhamir. Contohnya seperti dalam QS Al-Baqarah ayat 197 berikut ini :

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ ۚ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَىٰ ۚ وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

4. Huruf berharakat sebelum dan sesudah Ha Dhamir. Contohnya seperti dalam QS Al-Baqarah ayat 17 berikut ini :

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ

Dari 4 jenis kondisi Ha Dhamir di atas, yang dibaca panjang hanya Ha Dhamir nomor 4. Kesimpulan nya, Ha Dhamir dibaca panjang apabila huruf sebelum dan sesudah Ha Dhamir, bukan lah huruf sukun. Dengan kata lain, huruf sebelum dan sesudah Ha Dhamir harus hidup atau berharakat.

Alhamdulillah, di dalam Mushaf saat ini, para pembaca al-Quran tidak perlu lagi kesulitan dalam menentukan panjang pendek nya Ha Dhamir. Hal ini dikarenakan sudah diberi tanda atau syakl khusus. Untuk Ha Dhamir yang dibaca pendek diberi tanda harakat biasa, sedangkan untuk Ha Dhamir panjang diberi tanda panjang khusus. 

Pertanyaan-Pertanyaan

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan-pertanyaan seputar Ha Dhamir dalam Mad Shilah, yang mungkin juga merupakan pertanyaan para pembaca. Para pembaca atau pengunjung dapat mengajukan pertanyaan dengan cara menulis di kolom komentar.

Q : Ha Dhamir dapat berharakat dhammah maupun kasrah. Apakah ada Ha Dhamir yang tidak berharakat dhammah maupun kasrah?

A : Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, harakat yang dimiliki Ha Dhamir hanya ada 2 yaitu dhammah (sebagai harakat awal) dan kasrah (apabila sebelumnya terdapat kasrah atau ya sukun). Namun ada juga Ha Dhamir yang menjadi sukun karena riwayat bacaan Imam Hafsh (berkaitan dengan Ilmu Qiraat).

Salah satu contoh riwayat bacaan Imam Hafsh yang membaca sukun pada Ha Dhamir adalah QS an-Naml ayat 28 berikut ini

اذْهَبْ بِكِتَابِي هَٰذَا فَأَلْقِهْ إِلَيْهِمْ ثُمَّ تَوَلَّ عَنْهُمْ فَانْظُرْ مَاذَا يَرْجِعُونَ



Perhatikan Ha Dhamir pada kata yang diberi warna merah. Meskipun tidak berharakat dhammah maupun kasrah, itu tetap Ha Dhamir dengan cara bacaan (Qiraat) menurut riwayat Imam Hafsh. Dan karena bukan dibaca panjang, tentu itu bukan termasuk Mad Shilah.

Q : Setelah memperhatikan bentuk Ha Dhamir, apakah setiap huruf Ha yang terletak di ujung kata merupakan Ha Dhamir?

A : Tidak. Memang ada 2 unsur utama untuk mengetahui Ha Dhamir. Pertama adalah terletak di ujung kata, dan kedua adalah harakat nya dhammah atau kasrah. Namun, meskipun sudah memenuhi semua unsur, bukan berarti setiap huruf Ha di ujung kata merupakan Ha Dhamir.

Ada juga huruf Ha yang terletak di ujung kata dan berharakat dhammah atau kasrah tapi ia bukan Ha Dhamir. Lalu bagaimana cara membedakan nya? Mungkin, salah satu cara nya adalah dengan melihat dibaca panjang atau bukan. Salah satu contohnya adalah QS Al-Alaq ayat 15 berikut ini.

كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعًا بِالنَّاصِيَةِ

Perhatikan huruf Ha pada kata yang diberi warna merah. Bentuk nya memang sama, namun ia bukan Ha Dhamir. Apabila huruf Ha tersebut adalah Ha Dhamir, maka harusnya dibaca panjang karena huruf sebelum dan sesudahnya keduanya berharakat. Lalu kenapa tidak dibaca panjang? Berarti itu bukan Ha Dhamir. Logika nya seperti itu. Wallahu a'lam.

Q : Mengapa setelah mengenal Ha Dhamir dalam Mad Shilah semakin dirasa bingung dan sulit untuk memahami?

A : Bacaan dalam artikel ini sebagai tambahan ilmu dalam mendalami Mad Shilah. Namun pada prakteknya, para pembaca tidak perlu kebingungan serta kesulitan karena di dalam mushaf sudah terdapat tanda panjang khusus untuk Ha Dhamir.

Tajwid dalam QS Al-Ikhlash

Tajwid dalam QS Al-Ikhlash -

Dalam konten Contoh, penulis akan mencoba menganalisa dan mencari hukum bacaan yang ada pada suatu ayat atau surah. Bisa juga berisi artikel mengenai contoh suatu hukum bacaan yang terdapat dalam surah di dalam al-Quran.

Pada kesempatan kali ini, kita kan mencari hukum bacaan tajwid yang ada di QS (Quran Surah) Al-Ikhlash. Hukum bacaan tajwid di surah Al-Ikhlash memang tidak banyak karena ayatnya sedikit. Namun tetap berhati-hati dalam menguraikannya.



Salah satu uraian tajwid atau kupas tajwid yang penulis pakai, selain hukum tajwid pada umumnya, juga memasukkan hukum bacaan ro sehingga hukum tajwid yang dicari semakin banyak. Alasan memasukkan ro karena hukum bacaan ini kadang kurang diperhatikan.

Apa saja hukum bacaan tajwid yang ada di dalam QS Al-Ikhlash? Berbeda dari model sebelumnya, kali ini penulis akan memberikan tanda sekaligus nomor sehingga memudahkan para pembaca mencari dan melihat hukum tajwidnya.



Dari gambar di atas, hukum tajwid yang penulis temukan sebanyak 19 hukum tajwid. Apa saja hukum tajwid dan sebab-sebabnya? Berikut uraian hukum bacaan tajwid yang ada di dalam QS Al-Ikhlash dari ayat 1 sampai 4.

Ayat 1

1. Lafadz Allah dibaca tafkhim karena sebelumnya berharakat fathah

2. Idgham Syamsi karena lam ta'rif bertemu huruf lam

3. Mad Thabi'i karena alif didahului huruf berharakat fathah

4. Qalqalah Kubra karena huruf dal sukun di akhir

Ayat 2

5. Lafadz Allah dibaca tafkhim karena sebelumnya berharakat fathah

6. Idgham Syamsi karena lam ta'rif bertemu huruf lam

7. Mad Thabi'i karena alif didahului huruf berharakat fathah

8. Idgham Syamsi karena lam ta'rif bertemu huruf shad

9. Qalqalah Kubra karena huruf dal sukun di akhir



Ayat 3

10. Idzhar Syafawi karena mim sukun bertemu huruf ya

11. Qalqalah Sughra karena huruf dal sukun di tengah

12. Idzhar Syafawi karena mim sukun bertemu huruf ya

13. Mad Thabi'i karena ya sukun didahului huruf berharakat dhammah

14. Qalqalah Kubra karena huruf dal sukun di akhir

Ayat 4

15. Idzhar Syafawi karena mim sukun bertemu huruf ya

16. Idgham Bila Ghunnah karena nun sukun bertemu huruf lam

17. Mad Shilah Qashirah karena ha dhamir dibaca panjang dan tidak bertemu hamzah

18. Idzhar Halqi karena tanwin bertemu huruf hamzah

19. Qalqalah Kubra karena huruf dal sukun di akhir

Demikian artikel singkat mengenai hukum-hukum tajwid yang berada dalam QS Al-Ikhlash. Anda dapat request atau meminta uraian hukum tajwid dalam surat atau ayat tertentu dengan cara kirim pesan via Facebook Messenger atau kunjungi Halaman Kami di sini. Terima kasih.

Ringkasan Kitab Atlas Tajwid (Bag-2)

Ringkasan Kitab Atlas Tajwid (Bag-2) -

Salah satu kitab atau referensi yang cukup mudah dipahami adalah kitab "Athlas Tajwid". Salah satu keunggulan kitab ini adalah dibentuk dengan versi bergambar atau ilustrasi Tajwid sehingga para pembaca lebih mudah dalam memahaminya.

Kitab Atlas Tajwid ini dibuat oleh beberapa orang yang salah satunya adalah Dr Ayman Rusydi Suwayd. Ada juga Dr Adil Ibrahim Abu Sya'r. Kitab Atlas Tajwid ini memiliki 224 halaman dan diterbitkan pada tahun 2008.

Sebagaimana disinggung di awal, keunggulan kitab ini adalah ilustrasi atau dibuat seperti atlas sehingga mudah untuk memahami. Selain itu juga dibuat beberapa poin-poin seperti halnya saat presentasi memakai Micr0soft PowerPoint.

Berikut adalah sebagian dari daftar isi yang ada di kitab Atlas Tajwid ini :

  1. Hukum Ta'awudz dan Basmalah
  2. Pengertian Ilmu Tajwid
  3. Kondisi huruf Arab
  4. Makhraj Umum Huruf
  5. Sifat Huruf
  6. Pembahasan tentang Penyempurnaan Harakat
  7. Dua huruf yang bertemu
  8. Lam Ta'rif
  9. Hukum Mim sukun
  10. Kondisi atau Tingkatan ghunnah
  11. Hukum nun sukun dan tanwin
  12. Pembahasan Mad
  13. Idgham Naqish
  14. Imalah
  15. Tujuh Alif
  16. Asal kata Ni'imma
  17. Hamzah Washal
  18. Nabr
  19. Ilmu Waqaf Ibtida
  20. Ha Ta'nis
  21. Mawshul dan Maqthu'
  22. Perbedaan Rasm Mushaf dan Imla'i
  23. Contoh-contoh waqaf

Dari sekian banyak judul yang ada di daftar isi di atas, penulis hanya memaparkan beberapa saja. Mengingat kitab ini sudah cukup ringkas dan jelas. Selain itu, pembahasan umum akan dilewati dan memilih pembahasan-pembahasan yang menurut penulis anggap penting saja.



Artikel ini merupakan artikel lanjutan atau bagian kedua. Untuk bagian pertama, silahkan klik di sini. Di bagian pertama membahas Pengertian Ilmu Tajwid, Kondisi huruf Arab, Makhraj Umum huruf, sifat-sifat huruf, dua huruf bertemu, mim sukun, dan tingkatan Ghunnah.

8. Pembahasan Mad

Di dalam kitab ini, tidak terbagi menjadi 2 yaitu Mad Asli dan Mad Far'i, melainkan langsung menyebutkan hukum-hukum bacaan tajwid nya. Yang disebut adalah Mad Thabi'i, Mad al-Iwadh, Mad al-Badal, Mad Muttashil, Mad Munfashil, Mad Aridh, Mad al-Lin, Mad as-Shilah, dan Mad Lazim.

Meskipun begitu, di bagian akhir penulis kitab juga tetap membagi nya ke dalam dua bagian yang ditinjau dari segi panjangnya. Misal yang serupa dengan Mad Thabi'i adalah Mad Badal, Mad as-Shilah as-Sughra, dan mad Iwadh.

Selanjutnya dijelaskan ukuran panjang bacaan Mad disertai penyebutan nya, misalnya 6 harakat itu disebut thul atau isyba'. Misal 5 harakat disebut fuwayq at-tawassuth, dan seterusnya. Disambung dengan kesalahan-kesalahan yang terjadi saat membaca alif Mad, wawu Mad, dan ya Mad.

Salah satu yang menarik dalam kitab ini adalah pembahasan hukum bacaan Mad nya yang cukup rinci, termasuk pembahasan tingkatan kekuatan bacaan Mad serta kaidah Aqwa as-Sababayn. Jika dilihat dari tingkatan kekuatan Mad, maka urutannya dari paling atas adalah

  1. Lazim
  2. Muttashil
  3. Aridh
  4. Munfashil
  5. Badal

Salah satu contoh kaidah Aqwa as-Sababayn adalah apabila dalam satu contoh memuat hukum Mad Badal dan Mad Lazim maka yang didahulukan menurut kaidah Aqwa as-Sababayn adalah Mad Lazim nya. Contoh lagi, semisal satu contoh memuat Mad Badal dan Mad Muttashil maka yang dikuatkan adalah Mad Muttashil nya.

9. Tujuh Alif

Dalam al-Quran terdapat 7 alif, yang berada dalam 7 kata, itu tetap ada ketika dibaca waqaf. Namun alif nya tidak terbaca ketika washal. Ketujuh alif tersebut adalah 6 diantara nya terdapat Shifr Mustathil dan sisa nya Shifr Mustathil (kata Salasila dalam QS Al-Insan ayat 4 yang bisa dibaca dua bentuk). 



10. Hamzah Washal

Hamzah washal berfungsi sebagai bantuan membaca untuk kata yang diawali dengan sukun. Namun apabila bacaan nya tidak dimulai dari kata yang diawali sukun, maka hamzah washal nya tidak berfungsi. Hamzah washal bisa terdapat di kata benda (isim), kata kerja (fi'il), dan kata sambung (huruf). 

Cara membaca Hamzah washal yang berada di kata kerja adalah dibaca dhammah apabila huruf ketiga nya berharakat dhammah dan dibaca kasrah dalam 3 kondisi, yaitu 1) apabila huruf ketiga berharakat kasrah, 2) huruf ketiga berharakat fathah, dan 3) huruf ketiga berharakat dhammah 'aridhah.

Cara membaca hamzah washal yang berada di kata benda adalah selalu dibaca kasrah. Sedangkan cara membaca hamzah washal yang berada di kata sambung (al ta'rif) adalah selalu dibaca fathah. Berbeda dengan hamzah washal, hamzah qatha' adalah hamzah yang terbaca baik di tengah maupun di awal.

11. an-Nabr

an-Nabr adalah mengeraskan suara sedikit lebih tinggi daripada huruf-huruf yang lainnya. an-Nabr dalam al-Quran terletak dalam 5 kondisi, yaitu Pertama, waqaf pada huruf bertasydid, dengan cara mengeraskan suara sedikit huruf bertasydid nya. Kecuali huruf bertasydid nya berupa nun, mim, dan huruf qalqalah.

Kedua, ketika membaca huruf wawu dan ya bertasydid dimanapun berada. Ketiga, ketika perpindahan dari Mad ke huruf bertasydid. Dengan kata lain, membaca an-Nabr pada tasydid yang terletak pada hukum bacaan Mad Lazim Mutsaqqal. Tentunya selain nun dan mim bertasydid.

Keempat, waqaf pada Mad Aridh dan Mad Lin yang diakhiri dengan hamzah. Dan kelima, pada huruf yang tidak terbaca alif tatsniyah nya karena bertemu nya dua sukun. Pembacaan an-Nabr di sini untuk membedakan antara kata mufrad (tunggal) dan tatsniyah (duo).

12. Perbedaan Rasm Mushaf dan Rasm Imla'i

Rasm Imla'i merupakan cara penulisan Arab yang sesuai antara yang ditulis dengan yang dibaca. Itu berbeda dengan Rasm Mushaf. Setidaknya ada 5 perbedaan dalam Rasm Mushaf yang membedakan nya dengan Rasm Imla'i.



Pertama, terdapat huruf yang terbaca meskipun secara tulisan tidak ada. Kedua, huruf yang tertulis namun tidak dibaca. Ketiga, huruf yang tertulis dengan suatu bentuk namun dibaca dengan bentuk lain. Keempat, al-maqthu' dan al-mawshul. Dan kelima, beberapa ta marbuthah ditulis menjadi ta maftuhah.

Demikian ringkasan kitab Atlas Tajwid bagian kedua. Anda dapat melihat ringkasan-ringkasan kitab-kitab tajwid lainnya yang berada dalam situs ini, dalam Daftar Kitab-Kitab Tajwid atau langsung klik di sini. Semoga bermanfaat.

Perbedaan Shifr Mustathil dan Shifr Mustadir

Perbedaan Shifr Mustathil dan Shifr Mustadir -

Setelah mengenal dan mempelajari tanda baca Shifr yang terbagi menjadi dua yaitu Shifr Mustathil dan Shifr Mustadir, tentu dapat diidentifikasi dan ditemukan beberapa perbedaan dari kedua nya. Apa perbedaan antara Shifr Mustathil dan Shifr Mustadir? Berapa banyak perbedaan nya?

Jika diamati dan diperhatikan, setidaknya terdapat 6 (enam) perbedaan antara Shifr Mustathil dan Shifr Mustadir. Apa saja perbedaannya? Baca terus artikel ini. Oh iya, bagi Anda yang ingin membaca artikel tajwid lainnya, Anda bisa membaca daftar isi Tajwid dengan klik di sini. Untuk materi-materi mahkraj dan sifat, silahkan klik di sini

Nama dan Maknanya

Dari segi nama, keduanya sudah berbeda. Shifr bermakna bulat atau bundar. Sedangkan Mustadir berarti melingkar atau berputar, dan Mustathil bermakna memanjang. Tanda Shifr Mustathil sering diterjemahkan dengan tanda bulatan lonjong. Sedangkan tanda Shifr Mustadir sering disebut sebagai tanda bulat atau bulatan sempurna.


Bentuknya

Selain dari nama keduanya, dari segi bentuk nya tentu berbeda. Harap berhati-hati dalam membedakan sukun, shifr mustathil, dan shifr mustadir. Tanda sukun sekarang bukanlah berbentuk bulatan melainkan bulatan yang terpecah atau seperti kepala huruf ha.

Sedangkan tanda berbentuk bulat sekarang digunakan untuk tanda baca Shifr Mustadir. Untuk tanda baca Shifr Mustathil masih sama menggunakan tanda berbentuk bulatan yang melonjong ke atas bawah, buka melonjong ke kanan kiri. 

Fungsinya

Selain berbeda dari nama dan bentuk, keduanya juga berbeda dalam fungsi atau kegunaan. Terutama ketika dalam keadaan waqaf (berhenti). Persamaan nya adalah saat huruf-huruf yang memiliki tanda keduanya dan dibaca washal (sambung), maka huruf tersebut tidak terbaca.

Perbedaan nya adalah ketika dalam keadaan waqaf. Apabila itu huruf yang memiliki tanda Shifr Mustathil, maka huruf tersebut dibaca. Berbeda dengan Shifr Mustadir. Apabila itu huruf yang memiliki tanda Shifr Mustadir, maka huruf tersebut tetap tidak terbaca.

Huruf-hurufnya

Yang dimaksud dengan huruf-huruf di sini adalah huruf-huruf yang biasanya dibubuhi tanda Shifr, baik Mustathil maupun Mustadir. Huruf-huruf yang diberi tanda Shifr Mustathil hanyalah satu huruf saja yaitu huruf alif.

Sedangkan huruf-huruf yang diberi tanda Shifr Mustadir lebih banyak. Jumlahnya ada 3 (tiga) huruf yaitu alif, wawu, dan ya.

Letaknya

Tanda Shifr Mustathil hanya terdapat di atas alif dan letaknya selalu di akhir kata. Tidak ada tanda Shifr Mustathil, yang diberikan di atas alif, terletak di tengah kata. Sebaliknya, tanda Shifr Mustadir yang biasanya diberi di atas huruf alif, wawu, dan ya, dapat terletak di akhir atau tengah kata.

Jumlah Contohnya

Contoh-contoh atau kata-kata yang memiliki tanda Shifr Mustathil tidak banyak. Sekitar 6 (enam) contoh. Sedangkan contoh-contoh atau kata-kata yang memiliki tanda Shifr Mustadir cukup banyak dan dapat ditemukan di beberapa tempat di dalam al-Quran.

Contoh Nun Wiqayah atau Nun Washal di Juz 30

Contoh Nun Wiqayah atau Nun Washal di Juz 30 -

Dalam kategori "Contoh", penulis akan memaparkan atau memberikan contoh-contoh mengenai hukum bacaan atau uraian tajwid suatu ayat. Kali ini adalah contoh hukum bacaan Nun Wiqayah atau Nun Washal. Para pembaca juga bisa request contoh hukum bacaan berikutnya dengan cara berkomentar.

Dalam contoh hukum bacaan Nun Wiqayah kali ini, penulis mulai dari hukum bacaan Nun Wiqayah yang ada di juz 30 atau biasa disebut juz Amma. Dipilih dari Juz Amma terlebih dahulu, agar para pembaca lebih mudah mencari nya. Di samping itu, penulis sudah membuat artikel berjudul "25 Contoh Nun Wiqayah di dalam al-Quran". Contoh lainnya bisa dilihat klik di sini.

Hukum bacaan Nun Wiqayah adalah menambahkan bunyi nun berharakat kasrah sebagai pencegah agar tidak terjadinya pertemuan dua sukun. Atau dengan kata lain, Nun Wiqayah, yang berupa nun berharakat kasrah, akan muncul apabila tanwin bertemu hamzah washal.

Cara membaca Nun Wiqayah adalah dengan mengganti tanwin nya menjadi harakat biasa, lalu setelahnya muncul nun berharakat kasrah. Selain disebut Nun Wiqayah, juga bisa disebut Nun Washal atau Nun Shilah. Dalam Mushaf Standar Indonesia, Nun Wiqayah diberi tanda nun kecil. Sedangkan Mushaf Madinah, tidak diberi tanda.

Contoh hukum bacaan Nun Wiqayah tidak banyak ditemukan di dalam al-Quran. Untuk mencari hukum bacaan Nun Wiqayah sendiri cukup sulit. Kunci utama mencari Nun Wiqayah adalah tanwin bertemu hamzah washal. Kunci lainnya tergantung mushafnya, misalnya Mushaf Standar Indonesia yang sudah memberikan nun kecil sebagai tanda Nun Wiqayah..

Berikut contoh hukum bacaan Nun Wiqayah dalam Juz 30 lengkap nama surat dan nomor ayat nya, serta diberi cara membaca nya dalam bentuk latin. Selama pembahasan contoh, penulis selalu menyajikan contoh dalam satu ayat. 


Namun khusus Nun Wiqayah yang ada di Juz 30, penulis sajikan contoh Nun Wiqayah dalam gabungan 2 ayat. Mengapa begitu? Karena tidak ada satu pun contoh Nun Wiqayah di Juz 30 dalam satu ayat yang ditemukan penulis.

Terdapat dua kata yang berwarna merah untuk menandakan ada bacaan Nun Wiqayah. Dan Nun Wiqayah yang ditemukan di Juz 30, semuanya gabungan antara 2 ayat. Dengan kata lain, akhir ayat pertama digabung (dibaca washal) dengan awal ayat kedua. 

Sekali lagi dicatat bahwa contoh Nun Wiqayah di Juz 30 hanya ada dalam bentuk gabungan 2 ayat, bukan contoh Nun Wiqayah dalam satu ayat

1. QS An-Nazi'at ayat 16-17 (thuwanidzhab)

إِذْ نَادَاهُ رَبُّهُ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

2. QS Al-Alaq ayat 2-3 ('alaqiniqra')

خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ

اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ

3. QS Al-Humazah ayat 1-2 (lumazatinilladzi)

وَيْلٌ لِكُلِّ هُمَزَةٍ لُمَزَةٍ

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ

4. QS Al-Ikhlash ayat 1-2 (ahadunillahu)

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ

اللَّهُ الصَّمَدُ

Demikian artikel berjudul "Contoh Nun Wiqayah atau Nun Washal di Juz 30". Untuk contoh-contoh hukum bacaan lain, dapat Anda cari di blog ini atau di kategori Contoh. Para pembaca juga bisa request contoh hukum bacaan yang lain dengan cara berkomentar di bawah ini.

Contoh Mad Wajib Muttashil di Juz 30

Contoh Mad Wajib Muttashil di Juz 30 -

Dalam kategori "Contoh", penulis akan memaparkan atau memberikan contoh-contoh mengenai hukum bacaan atau uraian tajwid suatu ayat. Kali ini adalah contoh hukum bacaan Mad Wajib Muttashil. Para pembaca juga bisa request contoh hukum bacaan.


Dalam contoh hukum bacaan Mad Wajib Muttashil kali ini, penulis mulai dari hukum bacaan Mad Wajib Muttashil yang ada di juz 30 atau biasa disebut juz Amma. Dipilih dari Juz Amma terlebih dahulu, agar para pembaca lebih mudah mencari nya.

Hukum bacaan Mad Wajib Muttashil adalah apabila Mad bertemu dengan huruf hamzah dalam satu kata (sambung). Cara membaca Mad Wajib Muttashil adalah dengan membaca panjang sekitar 4 atau 5 harakat (2 atau 2,5 alif).

Contoh hukum bacaan Mad Wajib Muttashil cukup banyak dan cukup mudah ditemukan di dalam al-Quran. Untuk mencari hukum bacaan Mad Wajib Muttashil, perhatikan tanda layar mad dan setelahnya terdapat huruf hamzah yang terletak dalam satu kata.


Berikut contoh hukum bacaan Mad Wajib Muttashil dalam Juz 30 lengkap nama surat dan nomor ayatnya. Cukup banyak contoh Mad Wajib Muttashil di Juz 30 yang ditemukan penulis. Kata berwarna merah dalam ayat adalah kata yang mengandung hukum bacaan Mad Wajib Muttashil.

1. QS An-Naba ayat 1

عَمَّ يَتَسَاۤءَلُوْنَۚ

2. QS An-Naba ayat 14

وَّاَنْزَلْنَا مِنَ الْمُعْصِرٰتِ مَاۤءً ثَجَّاجًاۙ

3. QS An-Naba ayat 19

وَّفُتِحَتِ السَّمَاۤءُ فَكَانَتْ اَبْوَابًاۙ

4. QS An-Naba ayat 26

جَزَاۤءً وِّفَاقًاۗ

5. QS An-Naba ayat 32

حَدَاۤىِٕقَ وَاَعْنَابًاۙ

6 dan 7. QS An-Naba ayat 36

جَزَاۤءً مِّنْ رَّبِّكَ عَطَاۤءً حِسَابًاۙ

8. QS An-Naba ayat 38

يَوْمَ يَقُوْمُ الرُّوْحُ وَالْمَلٰۤىِٕكَةُ صَفًّاۙ لَّا يَتَكَلَّمُوْنَ اِلَّا مَنْ اَذِنَ لَهُ الرَّحْمٰنُ وَقَالَ صَوَابًا

9. QS An-Naba ayat 39

ذٰلِكَ الْيَوْمُ الْحَقُّۚ فَمَنْ شَاۤءَ اتَّخَذَ اِلٰى رَبِّهٖ مَاٰبًا

10. QS An-Nazi'at ayat 27

ءَاَنْتُمْ اَشَدُّ خَلْقًا اَمِ السَّمَاۤءُ ۚ بَنٰىهَاۗ

11. QS An-Nazi'at ayat 31

اَخْرَجَ مِنْهَا مَاۤءَهَا وَمَرْعٰىهَاۖ

12. QS An-Nazi'at ayat 34

فَاِذَا جَاۤءَتِ الطَّاۤمَّةُ الْكُبْرٰىۖ

13. QS Abasa ayat 2

اَنْ جَاۤءَهُ الْاَعْمٰىۗ

14. QS Abasa ayat 8

وَاَمَّا مَنْ جَاۤءَكَ يَسْعٰىۙ


15. QS Abasa ayat 12

فَمَنْ شَاۤءَ ذَكَرَهٗ ۘ

16. QS Abasa ayat 22

ثُمَّ اِذَا شَاۤءَ اَنْشَرَهٗۗ

17. QS Abasa ayat 25

اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ

18. QS Abasa ayat 30

وَّحَدَاۤئِقَ غُلْبًا

19. QS Abasa ayat 33

فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ ۖ

20. QS Abasa ayat 42

اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ

21. QS At-Takwir ayat 11

وَاِذَا السَّمَاۤءُ كُشِطَتْۖ

22. QS At-Takwir ayat 28

لِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗ

23 dan 24. QS At-Takwir ayat 29

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ

25. QS Al-Infithar ayat 1

اِذَا السَّمَاۤءُ انْفَطَرَتْۙ

26. QS Al-Infithar ayat 8

فِيْٓ اَيِّ صُوْرَةٍ مَّا شَاۤءَ رَكَّبَكَۗ

27. QS Al-Infithar ayat 16

وَمَا هُمْ عَنْهَا بِغَاۤىِٕبِيْنَۗ

28. QS Al-Muthaffifin ayat 4

اَلَا يَظُنُّ اُولٰۤىِٕكَ اَنَّهُمْ مَّبْعُوْثُوْنَۙ

29. QS Al-Muthaffifin ayat 23

عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۙ

30. QS Al-Muthaffifin ayat 32

وَاِذَا رَاَوْهُمْ قَالُوْٓا اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ لَضَاۤلُّوْنَۙ

31. QS Al-Muthaffifin ayat 35

عَلَى الْاَرَاۤىِٕكِ يَنْظُرُوْنَۗ

31. QS Al-Insyiqaq ayat 1

اِذَا السَّمَاۤءُ انْشَقَّتْۙ

32. QS Al-Insyiqaq ayat 10

وَاَمَّا مَنْ اُوْتِيَ كِتٰبَهٗ وَرَاۤءَ ظَهْرِهٖۙ

33. QS Al-Buruj ayat 1

وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الْبُرُوْجِۙ

34. QS Al-Buruj ayat 20

وَّاللّٰهُ مِنْ وَّرَاۤىِٕهِمْ مُّحِيْطٌۚ

35. QS At-Thariq ayat 1

وَالسَّمَاۤءِ وَالطَّارِقِۙ

36. QS At-Thariq ayat 6

خُلِقَ مِنْ مَّاۤءٍ دَافِقٍۙ

37. QS At-Thariq ayat 7

يَّخْرُجُ مِنْۢ بَيْنِ الصُّلْبِ وَالتَّرَاۤىِٕبِۗ

38. QS At-Thariq ayat 9

يَوْمَ تُبْلَى السَّرَاۤىِٕرُۙ

39. QS At-Thariq ayat 11

وَالسَّمَاۤءِ ذَاتِ الرَّجْعِۙ


40. QS Al-A'la ayat 5

فَجَعَلَهٗ غُثَاۤءً اَحْوٰىۖ

41. QS Al-A'la ayat 7

اِلَّا مَا شَاۤءَ اللّٰهُ ۗاِنَّهٗ يَعْلَمُ الْجَهْرَ وَمَا يَخْفٰىۗ

42. QS Al-Ghasyiyah ayat 18

وَاِلَى السَّمَاۤءِ كَيْفَ رُفِعَتْۗ

43. QS Al-Fajr ayat 22

وَّجَآءَ رَبُّكَ وَالْمَلَكُ صَفًّا صَفًّاۚ

44. QS Al-Fajr ayat 23

وَجِايْۤءَ يَوْمَىِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَۙ يَوْمَىِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الْاِنْسَانُ وَاَنّٰى لَهُ الذِّكْرٰىۗ

45. QS Al-Balad ayat 18

اُولٰۤىِٕكَ اَصْحٰبُ الْمَيْمَنَةِۗ

46. QS As-Syams ayat 5

وَالسَّمَاۤءِ وَمَا بَنٰىهَاۖ

47. QS Al-Lail ayat 20

اِلَّا ابْتِغَاۤءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْاَعْلٰىۚ

48. QS Ad-Dhuha ayat 8

وَوَجَدَكَ عَاۤىِٕلًا فَاَغْنٰىۗ

49. QS Ad-Dhuha ayat 10

وَاَمَّا السَّاۤىِٕلَ فَلَا تَنْهَرْ

50. QS Al-Qadr ayat 4

تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ

51. QS Al-Bayyinah ayat 4

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَاۤءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ ۗ

52. QS Al-Bayyinah ayat 5

وَمَآ اُمِرُوْٓا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ ەۙ حُنَفَاۤءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِۗ

53. QS Al-Bayyinah ayat 6

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَالْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَارِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِۗ

54. QS Al-Bayyinah ayat 7

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰۤىِٕكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِۗ

55. QS Al-Bayyinah ayat 8

جَزَاۤؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ۗرَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ

56. QS Quraisy ayat 2

اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَاۤءِ وَالصَّيْفِۚ

57. QS Al-Ma'un ayat 6

الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ

58. QS An-Nashr ayat 1

اِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُۙ

Demikian artikel berjudul "Contoh Mad Wajib Muttashil di Juz 30". Untuk contoh-contoh hukum bacaan lain, dapat Anda cari di blog ini atau di kategori Contoh atau klik di sini. Para pembaca juga bisa request contoh hukum bacaan yang lain dengan cara berkomentar di bawah ini.

Mad Iwadh

Mad Iwadh -

Bab Mad merupakan salah satu Bab dengan uraian yang bercabang. Diantara hukum bacaan nya terdapat penjelasan yang singkat dan mudah, serta ada juga pembahasan yang rumit dan panjang. Salah satu hukum bacaan Mad yang singkat dan mudah adalah Mad Iwadh? Apa pengertian hukum bacaan Mad Iwadh? Bagaimana cara membaca Mad Iwadh? Dan apa saja contoh-contoh hukum bacaan Mad Iwadh?

Pengertian dan Cara Membaca Mad Iwadh

Secara bahasa, Mad Iwadh atau Madd al-'Iwadh (مَدُّ الْعِوَضِ) terdiri dari dua kata yaitu Mad dan Iwadh. Mad artinya panjang, sedangkan Iwadh berarti ganti. Secara istilah Ilmu Tajwid, Mad Iwadh adalah memanjangkan fathah biasa yang menggantikan fathah tanwin ketika dibaca waqaf.



Dengan kata lain, Mad Iwadh hanya terjadi ketika dalam keadaan waqaf atau berhenti. Dan Mad Iwadh hanya terjadi ketika waqaf pada kata yang berakhiran tanwin nashab, sehingga jika waqaf atau berhenti, maka fathah tanwin tersebut diganti menjadi fathah panjang.

Cara membaca Mad Iwadh adalah mengganti fathah tanwin menjadi fathah biasa dengan panjang sekitar 2 harakat atau 1 alif. Mad Iwadh ini juga merupakan Mad yang serupa atau cabang dari Mad Thabi'i atau Mad Asli yang sama-sama dibaca 1 alif atau 2 harakat.

Semua kata yang berakhiran tanwin nashab (fathah tanwin) apabila dibaca waqaf, maka berubah menjadi hukum bacaan Mad Iwadh. Pengecualian pada kata yang berakhiran ta' marbuthah (ة), karena waqaf pada kata yang berakhiran ta' marbuthah sekalipun fathah tanwin, ia tetap berubah menjadi ha' sukun.

Contoh-Contoh Mad Iwadh

Contoh-contoh terkait hukum bacaan Mad Iwadh cukup mudah ditemukan di dalam al-Quran. Hukum bacaan Mad Iwadh bisa ditemukan di akhir ayat atau di tengah ayat. Dengan kata lain, setiap kata berakhiran fathah tanwin lalu dibaca waqaf maka menjadi Mad Iwadh, dengan ketentuan-ketentuan yang dimilikinya.

Berikut ini penulis pilihkan contoh-contoh Mad Iwadh yang terdapat di akhir-akhir ayat. Kata yang mengandung hukum bacaan Mad Iwadh diberi warna merah untuk mempermudah pencarian. Ditambah nama surah dan nomor ayat nya.

1. QS An-Nisa ayat 28

يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُخَفِّفَ عَنْكُمْ ۚ وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

2. QS Al-Isra ayat 3

ذُرِّيَّةَ مَنْ حَمَلْنَا مَعَ نُوحٍ ۚ إِنَّهُ كَانَ عَبْدًا شَكُورًا

3. QS Al-Kahf ayat 3

مَاكِثِينَ فِيهِ أَبَدًا

4.QS Maryam ayat 3

إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ نِدَاءً خَفِيًّا

5. QS Al-Furqan ayat 11

بَلْ كَذَّبُوا بِالسَّاعَةِ ۖ وَأَعْتَدْنَا لِمَنْ كَذَّبَ بِالسَّاعَةِ سَعِيرًا

Pertanyaan-pertanyaan

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan-pertanyaan seputar hukum bacaan Mad Iwadh, yang mungkin juga merupakan pertanyaan para pembaca. Para pembaca atau pengunjung dapat mengajukan pertanyaan dengan cara menulis di kolom komentar.

Q : Semua kata yang berakhiran fathah tanwin dapat menjadi Mad Iwadh apabila dibaca waqaf, kecuali ta' marbuthah. Apa contohnya?

A : Kata-kata yang berakhiran ta' marbuthah dengan fathah tanwin dapat ditemukan di dalam al-Quran, meskipun tidak di akhir ayat. Berikut beberapa contohnya

QS Ali Imran ayat 8

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ

QS Al-Anfal ayat 45

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

QS At-Taubah ayat 126

أَوَلَا يَرَوْنَ أَنَّهُمْ يُفْتَنُونَ فِي كُلِّ عَامٍ مَرَّةً أَوْ مَرَّتَيْنِ ثُمَّ لَا يَتُوبُونَ وَلَا هُمْ يَذَّكَّرُونَ

Q : Apakah terdapat tambahan lainnya terkait Mad Iwadh?

A : Di dalam beberapa kitab tajwid, terdapat tambahan terkait Mad Iwadh. Tambahan yang dimaksud adalah isim maqshur. Isim maqshur adalah isim (kata benda) yang diakhiri dengan alif lazimah (tetap) atau alif layyinah (berbentuk huruf ya'). Untuk lebih jelasnya, perhatikan contoh isim maqshur (diberi warna merah) berikut ini:

QS Al-Qiyamah ayat 36

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى

QS Al-Baqarah ayat 125

وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ

QS Fushshilat ayat 44

وَلَوْ جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا أَعْجَمِيًّا لَقَالُوا لَوْلَا فُصِّلَتْ آيَاتُهُ ۖ أَأَعْجَمِيٌّ وَعَرَبِيٌّ ۗ قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ

Dijelaskan bahwa tanwin dalam isim maqshur berbeda dengan tanwin nashab yang terdapat dalam Mad Iwadh, meskipun keduanya sama-sama menggunakan fathah tanwin. Dalam kasus Mad Iwadh, tanwin nashab diganti dengan mad tambahan berupa alif tambahan ketika waqaf.

Sedangkan tanwin dalam isim maqshur, yang ketika waqaf dibaca alif panjang, merupakan asli dari kalimat tersebut sehingga tidak masuk ke dalam pengertian Mad Iwadh. Lalu apa hukum bacaan nya jika dibaca waqaf pada isim maqshur? Hukum bacaannya adalah Mad Asli atau Mad Thabi'i.