Perbedaan Antara Shifr Mustathil dan Mustadir

Perbedaan Antara Shifr Mustathil dan Mustadir -

Setelah mempelajari Shifr Mustathil dan Shifr Mustadir, baik dari segi pengertian dan cara membacanya, tentu akan memunculkan pertanyaan lanjutan yakni apa perbedaan antara Shifr Mustathil dan Shifr Mustadir? Ada berapa perbedaan diantara keduanya?

Artikel ini menjelaskan perbedaan antara Shifr Mustathil dan Shifr Mustadir yang dikutip dari beberapa sumber rujukan kitab Ilmu Tajwid. Bagi Anda yang telah mengamati dengan seksama, setidaknya dapat disimpulkan bahwa terdapat 5 (lima) perbedaan antara Shifr Mustathil dan Mustadir.

1. Perbedaan Bentuk 

Perbedaan pertama antara Shifr Mustathil dan Shifr Mustadir adalah dari segi bentuknya. Shifr bermakna bulat atau lingkaran. Mustathil bermakna memanjang atau lonjong. Sedangkan Mustadir bermakna bulat atau bundar.

Sesuai namanya, bentuk Shifr Mustadir adalah tanda bulat total atau bulat sempurna. Sedangkan bentuk Shifr Mustathil berbeda. Bentuknya berupa tanda bulat melonjong yang berdiri. Sekilas memang keduanya nampak sama, namun jika diamati kedua tanda bulatnya berbeda sesuai namanya.

2. Perbedaan Fungsi

Selanjutnya dari segi fungsinya, keduanya juga berbeda. Fungsi adanya tanda Shifr Mustahil, yang biasanya menempel di satu huruf, adalah huruf tersebut terbaca apabila pembaca berhenti (waqaf) dan tidak terbaca apabila pembaca melanjutkan bacaannya (washal).


Berbeda dengan fungsi dari Shifr Mustadir. Fungsi atau kegunaan dari tanda Shifr Mustadir adalah huruf tersebut tidak terbaca dalam keadaan apapun, entah itu pembaca berhenti membaca (waqaf) atau melanjutkan bacaannya (washal).

3. Perbedaan Huruf

Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, kedua tanda baik Shifr Mustathil dan Mustadir selalu menempel di suatu huruf. Huruf yang didiami oleh kedua tanda tersebut tidak selalu sama. Tanda Shifr Mustathil hanya teletak di atas satu huruf saja yakni alif.

Sedangkan tanda Shifr Mustadir terletak di atas tiga huruf yaitu alif, wawu, dan ya. Dengan kata lain, beberapa alif kadang di atasnya terdapat Shifr Mustathil, dan beberapa alif lainnya terdapat Shifr Mustadir di atasnya.

4. Perbedaan Jumlah Kata

Perbedaan berikutnya adalah dari segi jumlah kata. Jumlah kata yang dimaksud adalah kata apa saja yang terdapat tanda Shifr Mustathil atau Shifr Mustadir. Kata-kata yang terdapat tanda Shifr Mustathil hanya ada 6 kata saja di dalam al-Quran.

Sedangkan kata-kata yang terdapat tanda Shifr Mustadir nya cukup banyak ditemukan di dalam al-Quran. Setidaknya lebih banyak dari kata yang terdapat tanda Shifr Mustathilnya. Berikut beberapa contoh kata yang terdapat tanda Shifr Mustadirnya:




5. Perbedaan Letak

Terakhir adalah perbedaan dari segi letak tanda di dalam suatu kata. Maksudnya, dimana letak tanda Shifr itu dalam satu kata, apakah di depan, di tengah, atau di belakang? Untuk tanda Shifr Mustahil selalu terletak di belakang atau huruf terakhir dari sebuah kata.

Berbeda dengan tanda Shifr Mustadir. Tanda Shifr Mustadir tidak hanya berada di belakang, namun juga terletak di tengah-tengah sebuah kata sehingga perlu diperhatikan terkait cara membacanya yang kadang bagi sebagian orang, tanda tersebut mirip dengan tanda sukun karena letaknya di tengah kata.

Membaca Basmalah di Pertengahan Surat at Taubah?

Membaca Basmalah di Pertengahan Surat at Taubah? -

Para Ulama bersepakat tidak diperbolehkannya membaca basmalah (bismillahir rohmanir rohim) di awal surat at-Taubah. Ketika Qari' (pembaca al-Qur'an) ingin memulai bacaan (ibtida') dari awal surat at-Taubah, maka cukup membaca ta'awudz saja.

Lalu muncul pertanyaan, bagaimana jika memulai membaca dari pertengahan surat at-Taubah? Apakah diperbolehkan membaca basmalah di pertengahan surat at-Taubah? Atau cukup membaca ta'awudz saja, sebagaimana awal surat at-Taubah?


Membaca Basmalah di Pertengahan Surat

Sebelum membahas hukum membaca basmalah di pertengahan surat at-Taubah, bagaimana hukum membaca basmalah di pertengahan surat? Dalam kitab al-Mufid fi Ilm at-Tajwid disebutkan bahwa membaca basmalah di pertengahan surat merupakan sebuah pilihan.



Dengan kata lain, apabila ingin memulai bacaan di pertengahan surat maka diperbolehkan membaca Basmalah atau tidak membaca Basmalah. Sementara itu di dalam kitab Taysir ar-Rahman fi Tajwid al-Qur'an disebutkan bahwa sunnah membaca basmalah di pertengahan surat selain surat at-Taubah.

Membaca Basmalah di Pertengahan Surat at-Taubah

Sementara itu, bagaimana dengan membaca basmalah di pertengahan surat at-Taubah? Apakah sama dengan larangan membaca basmalah di awal surat at-Taubah? Para ulama berbeda penpadat tentang hukum membaca basmalah di pertengahan surat at-Taubah.

Pendapat pertama mengatakan bahwa tidak boleh membaca basmalah di pertengahan surat at-Taubah sebagaimana dilarang membacanya di awal surat at-Taubah. Pendapat ini merupakan pendapat Imam al-Ja'bari.

Pendapat kedua mengatakan bahwa boleh membaca basmalah di pertengahan surat at-Taubah sebagaimana bolehnya membaca basmalah di pertengahan surat-surat selain at-Taubah.

Manakah pendapat yang paling rajih? Menurut kitab al-Mufid fi Ilm at-Tajwid, pendapat pertama merupakan pendapat paling rajih karena disamakan dengan ketidakbolehannya membaca basmalah di awal surat at-Taubah.

Macam-macam Cara Membaca Awal Surat at Taubah

Macam-macam Cara Membaca Awal Surat at Taubah -

Setelah mempelajari alasan-alasan dibalik tidak ditulisnya basmalah di awal surat at-Taubah atau Bara'ah, kali ini kita akan belajar bagaimana cara membaca awal surat at-Taubah atau Bara'ah, baik saat memulai dari surat at Taubah maupun memulai dari akhir surat al-Anfal.

Sebagaimana yang telah diketahui, tidak diperbolehkan membaca Basmalah (bismillaahir-rohmaanir-rohiim) di awal surat at-Taubah atau Bara'ah. Pembaca al-Qur'an cukup mengawali surat at-Taubah dengan membaca taa'wudz saja.

Setidaknya ada 5 (lima) model cara membaca awal surat at-Taubah atau Bara'ah dengan kombinasi waqaf (menghentikan bacaan) dan washal (menyambung bacaan). Baik itu dari awal surat at-Taubah maupun jika kita memulai dari surat sebelumnya.

Membaca Awal Surat at-Taubah

Yang dimaksud dengan membaca awal surat at-Taubah adalah kita akan mulai membaca al-Quran (ibtida') dari ayat pertama surat at-Taubah. Cara membaca awal surat at-Taubah demikian, setidaknya ada dua macam cara kombinasi dengan ta'awudz.

اَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ () بَرَاءَةٌ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ اِلَى الَّذِيْنَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Pertama, waqaf (menghentikan bacaan). Ini tidak berbeda dengan membaca ayat pada umumnya. Selain itu, ini adalah cara paling umum digunakan ketika membaca awal surat at-Taubah (Bara'ah). Caranya adalah kita membaca ta'awudz, lalu waqaf, kemudian membaca ayat pertama surat Bara'ah.



Kedua, washal (menyambung bacaan). Caranya adalah kita membaca ta'awudz disambung dengan awal ayat pertama surat at-Taubah dalam sekali nafas. Cara ini tidak umum digunakan karena membutuhkan tarikan nafas yang panjang.

Membaca Awal Surat at-Taubah dari Surat al-Anfal

Yang dimaksud dengan membaca awal surat at-Taubah dari surat al-Anfal adalah kita tidak memulai membaca dari ayat pertama surat at-Taubah, melainkan kita membaca surat sebelumnya dan disambung dengan surat at-Taubah, sehigga tidak ada ta'awudz karena kita tidak ibtida' di surat at-Taubah.

Setidaknya ada tiga macam cara membaca awal surat at-Taubah untuk model seperti ini. Untuk memudahkan penerapan contoh, kita ambil cara membaca potongan akhir dari ayat terakhir surat al-Anfal dan potongan awal surat at-Taubah.

اِنَّ اللهَ بِكُلِّ شَيْئٍ عَلِيْمٌ () بَرَاءَةٌ مِنَ اللهِ وَرَسُوْلِهِ اِلَى الَّذِيْنَ عَاهَدْتُمْ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

Pertama, waqaf (menghentikan bacaan). Caranya adalah kita membaca akhir surat al-Anfal, lalu waqaf, lalu membaca awal surat at-Taubah. Sebagaimana sebelumnya, ini merupakan cara yang paling lazim digunakan ketika membaca lanjut awal surat at-Taubah.

Kedua, washal (menyambung bacaan). Caranya adalah kita membaca akhir surat al-Anfal, lalu disambung langsung dengan awal surat at-Taubah. Ini merupakan cara yang tidak umum karena membutuhkan nafas yang cukup.

Ketiga, saktah (berhenti tanpa bernafas). Caranya adalah kita membaca akhir surat al-Anfal, lalu berhenti sejenak tanpa bernafas, kemudian membaca awal surat Bara'ah. Cara ini jarang digunakan karena mirip dengan waqaf, dan kebanyakan lebih memilih cara waqaf daripada saktah.

3 Alasan Surat at Taubah Tidak Diawali Basmalah

3 Alasan Surat at Taubah Tidak Diawali Basmalah -

Dalam setiap membaca awal surat-surat al-Quran, biasanya diawali dengan membaca basmalah. Namun ada satu surat yang tidak diawali dengan basmalah. Surat itu adalah surat at Taubah. Surat yang dalam urutan penulisannya di mushaf, terletak antara surat al-Anfal dan Yunus.

Surat at Taubah juga populer memiliki nama lain yaitu Bara'ah. Hikmah mengapa disebut surat at Taubah karena dalam surat ini ditemukan banyak pengulangan tentang perintah bertaubat. Sedangkan hikmah mengapa disebut surat Bara'ah karena surat ini diawali dengan pembebasan (bara'ah) atau pemutusan hubungan dengan pihak musyrikin.

Selain kedua nama itu, surat at Taubah juga banyak memiliki nama-nama lainnya seperti surat al-Fadhihah, surat al-'Adzab, surat al-Bahuts, surat al-Hafirah, surat al-Mutsirah, dan lain sebagainya sebagaimana dikutip dari kitab Mahasin at-Ta'wil.

Lalu mengapa surat At Taubah atau Bara'aj ini tidak diawali dengan Basmalah? Artikel ini akan memaparkan tiga alasan mengapa surat Baraah atau at Taubah ini tidak diawali dengan Basmalah. Alasan-alasan tersebut dikutip dari kitab tafsir Mahasin at-Ta'wil karya al-Qasimi.



Alasan Pertama : Basmalah itu Rahmat

Al-Hakim meriwayatkan dalam kitab al-Mustadrak nya, dari Ibn Abbas berkata: Aku bertanya kepada Ali bin Abi Thalib, "Mengapa tidak ditulis Basmalah di surat Baraah?". Ali bin Abi Thalib menjawab, "Karena ia (basmalah) merupakan kedamaian. Sedangkan Bara'ah diturunkan berhubungan dengan pedang atau peperangan."

Dari pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa tidak dapat berkumpul antara damai dan perang. Keduanya saling bertolak belakang. Basmalah yang diucapkan bertujuan untuk mendoakan dan memberi keamanan, kedamaian, dan rahmat. Sedangkan Bara'ah berkaitan dengan peperangan dan pemutusan hubungan.

Alasan Kedua : Pendapat Utsman

Alasan kedua merupakan pendapat Utsman perihal tidak ditulisnya basmalah di awal surat Bara'ah. Pendapat Utsman dicatat oleh Imam Ahmad dalam kitab Musnad-nya. Berikut makna dari potongan hadis yang dikutip dari Musnad Ahmad.

Ibnu Abbas bertanya kepada Utsman Bin Affan; "Apa yang menyebabkan kalian sengaja meletakkan surat Al Anfal padahal dia termasuk dari al Matsani (surat yang ayatnya kurang dari seratus) dan surat Bara'ah (At Taubah) padahal dia termasuk dari mi`in (surat yang ayatnya sampai seratus) kemudian kalian gabungkan antara keduanya dan tidak kalian tulis (Basmalah)?"  

Utsman berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ketika suatu masa datang kepada beliau dan turunlah kepadanya surat surat yang mempunyai jumlah ayat banyak, dan apabila diturunkan kepadanya wahyu beliau memanggil beberapa orang yang menuliskan di sisinya, kemudian beliau berkata: "Letakkan oleh kalian ini dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begini, " dan ketika turun beberapa ayat kepadanya, beliau berkata: "Letakkanlah ayat ini dan ayat ini ke dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begini, " dan ketika turun suatu ayat kepadanya, beliau berkata: "Letakkanlah ayat ini ke dalam surat yang disebutkan di dalamnya begini dan begini."

Surat Al Anfal adalah termasuk surat yang pertama diturunkan di Madinah, sedangkan Bara'ah (At Taubah) adalah termasuk surat yang terakhir diturunkan di Madinah, dan kandungannya adalah mirip dengan kandungan yang ada dalam surat Al Anfal.

Kemudian Rasulullah  wafat, sementara beliau belum menjelaskan kepada kami bahwa dia (Bara'ah) termasuk surat dari surat Al Anfal, maka aku menganggapnya termasuk darinya sehingga aku menggabungkan antara keduanya dan tidak menulis pembatas antara keduanya dengan basmalah." 

Alasan Ketiga : Antara bergabung atau tidak dengan Al-Anfal

Alasan ketiga tidak berbeda jauh dengan alasan kedua. Di alasan kedua, dapat dipahami bahwa Ustman tidak mencantumkan basmalah karena isi dari surat Bara'ah dan al-Anfal mirip. Selain itu, Rasulullah belum menjelaskan.



Alasan ketiga, dikutip dari Abu Rawq mengatakan bahwa surat Bara'ah dan al-Anfal merupakan satu surat. Hal yang sama dinukil dari Mujahid. Sementara itu, Abu as-Su'ud berpendapat bahwa surat Baraah merupakan surat sendiri atau terpisah dari Al-Anfal.

Demikianlah tiga alasan mengapa surat Bara'ah tidak diawali dan ditulis dengan basmalah. Sementara itu, Al-Qasim menutup dengan perkataan bahwa para ulama telah menyepakati untuk tidak membaca basmalah di awal surat Bara'ah atau at Taubah, dengan argumentasi untuk ittiba' dengan mushaf imam atau utsmani yang juga tidak ditulis basmalah di awal surat at Taubah.

Soal Pilihan Ganda Tajwid Bab Sifat

Apakah Anda membutuhkan soal-soal mengenai bab Makhraj untuk sebagai bahan ajar atau latihan. Berikut ini penulis buat 25 soal berisi pilihan ganda mengenai bab Sifat huruf hijaiah. Silahkan berkomentar jika ada pertanyaan yang kurang tepat atau membingungkan.

1. Ada berapa jumlah huruf yang memiliki sifat Jahr?
a. 19
b. 20
c. 21
d. 10

2. Ada berapa jumlah huruf yang memiliki sifat Tawassuth?
a. 4
b. 5
c. 10
d. 7

3. Ada berapa jumlah huruf yang memiliki sifat Tafasysyi?
a. 1
b. 4
c. 5
d. 7



4. Ada berapa jumlah huruf yang memiliki sifat Qalqalah?
a. 1
b. 4
c. 5
d. 7

5. Ada berapa jumlah huruf yang memiliki sifat Shafir?
a. 1
b. 4
c. 5
d. 3

6. Sifat apa yang berlawanan dari sifat Hams?
a. Syiddah
b. Tawassuth
c. Isti’la
d. Jahr

7. Sifat apa yang berlawanan dari sifat Ishmat?
a. Infitah
b. Idzlaq
c. Isti’la
d. Tawassuth

8. Sifat apa yang berlawanan dari sifat Isti’la?
a. Infitah
b. Istifal
c. Lin
d. Shafir

9. Sifat apa yang berlawanan dari sifat Shafir?
a. Lin
b. Qalqalah
c. Hams
d. Tidak ada



10. Sifat apa yang berlawanan dari sifat Infitah?
a. Ithbaq
b. Idzlaq
c. Jahr
d. Hams

11. Berikut ini adalah sifat-sifat yang dimiliki huruf ba (ب) kecuali...
a. Qalqalah
b. Jahr
c. Syiddah
d. Isti’la


12. Berikut ini adalah sifat sifat yang dimiliki huruf ro (ر) kecuali...
a. Jahr
b. Syiddah
c. Takrir
d. Infitah

13. Berikut ini adalah sifat sifat yang dimiliki huruf syin (ش) kecuali...
a. Hams
b. Rakhawah
c. Qalqalah
d. Tafasysyi

14. Berikut ini adalah sifat sifat yang dimiliki huruf ta (ت) kecuali...
a. Hams
b. Syiddah
c. Istifal
d. Ithbaq

15. Berikut ini adalah sifat sifat yang dimiliki huruf kho (خ) kecuali... 
a. Hams
b. Rakhawah
c. Idzlaq
d. Isti’la

16. Manakah huruf berikut yang memiliki sifat Syiddah?
a. Syin
b. Qaf
c. Nun
d. Lam

17. Manakah huruf berikut yang memiliki sifat Lin?
a. Syin
b. Qaf
c. Nun
d. Lam

18. Manakah huruf berikut yang memiliki sifat Istithalah?
a. Ro
b. Dhad
c. Mim
d. Ain

19. Manakah huruf berikut yang memiliki sifat Ghunnah?
a. Ro
b. Dhad
c. Mim
d. Ain

20. Manakah huruf berikut yang memiliki sifat Idzlaq?
a. Ro
b. Dhad
c. Mim
d. Ain

21. Pilih pernyataan benar berikut ini!
a. Jahr adalah tertahannya aliran nafas ketika mengucapkan huruf
b. Syiddah adalah  mengalirnya suara ketika mengucapkan huruf 
c. Isti’la adalah turunnya pangkal lidah ketika mengucapkan huruf
d. Tawassuth adalah tertahannya suara ketika mengucapkan huruf



22. Huruf ro dan lam memiliki sifat yang hampir sama, namun ada satu sifat yang membedakan keduanya. Sifat itu adalah sifat....
a. Istithalah
b. Tafasysyi
c. Takrir
d. Lin

23. Pilih pernyataan benar berikut ini!
a. Tawassuth merupakan sifat pertengahan antara Isti’la dan Istifal
b. Sifat Qalqalah merupakan sifat yang tidak memiliki lawan
c. Ada 10 huruf yang memiliki sifat Isti’la
d. Jumlah sifat yang dimiliki huruf hamzah adalah 9 sifat.



24. Sifat Inhiraf hanya dimiliki oleh dua huruf, yaitu
a. Lam dan Ro
b. Nun dan Mim
c. Hamzah dan Alif
d. Sin dan Shad

25. Pilih pernyataan benar berikut ini!
a. Sifat Takrir adalah bergetarnya bibir ketika mengucapkan huruf
b. Sifat Ishmat adalah cepatnya suara ketika mengucapkan huruf
c. Sifat Tafasysyi adalah lawan kata dari sifat Inhiraf
d. Sifat Lin adalah mengucapkan huruf dengan lentur


Demikian soal-soal pilihan ganda tentang bab Sifat Huruf. Silahkan berkomentar jika ada saran dan masukan. Anda juga bisa meminta jawaban salah satu nomor yang tertera pada soal di atas, dengan cara hubungi via Facebook Messenger yang ada di pojok kanan bawah.

Namun, jika Anda ingin meminta versi full PDF beserta kunci jawaban nya secara lengkap, maka kami mohon untuk menyukai atau Like Halaman Facebook Kami bernama "KhudzilKitab Grup". Setelah itu, hubungi penulis via Facebook Messenger yang ada di pojok kanan bawah.

Contoh Qalqalah Kubra Juz 30 Lengkap

Contoh Qalqalah Kubra Juz 30 Lengkap -

Dalam kategori "Contoh", penulis akan memaparkan atau memberikan contoh-contoh mengenai hukum bacaan atau uraian tajwid suatu ayat. Kali ini adalah contoh hukum bacaan Qalqalah Kubra. Para pembaca juga bisa request contoh hukum bacaan.

Dalam contoh hukum bacaan Qalqalah Kubra kali ini, penulis mulai dari hukum bacaan Qalqalah Kubra yang ada di juz 30 atau biasa disebut juz Amma. Dipilih dari Juz Amma terlebih dahulu, agar para pembaca lebih mudah mencari nya.


Hukum bacaan Qalqalah Kubra adalah apabila ada huruf qalqalah sukun di akhir bacaan (waqaf). Cara membacanya adalah dengan memantulkan huruf qalqalah yang sukun. Dan dengan memperhatikan huruf yang tebal dan tipisnya.

Baca Juga : CONTOH QALQALAH SUGHRA JUZ 30 LENGKAP BAGIAN 2

Contoh hukum bacaan Qalqalah Kubra cukup mudah ditemukan dalam al-Quran. Begitu pula contoh hukum bacaan Qalqalah Kubra yang ada di Juz 30. Qalqalah Kubra dapat terletak di akhir ayat atau tengah ayat tergantung cara waqafnya. Oleh karena itu, penulis sengaja memilih Qalqalah Kubra yang terletak di akhir ayat.



Berikut contoh hukum bacaan Qalqalah Kubra dalam Juz 30 Lengkap nama surat dan nomor ayatnya. Kata berwarna merah dalam ayat adalah kata yang mengandung hukum bacaan Qalqalah Kubra. Sedangkan yang di dalam kurung adalah huruf qalqalah nya. Perhatikan contoh-contoh ini :

1. QS Al-Insyiqaq ayat 16 (huruf qaf sukun karena waqaf)

فَلَآ أُقْسِمُ بِٱلشَّفَقِ

2. QS Al-Insyiqaq ayat 17 (huruf qaf sukun karena waqaf)

وَٱلَّيْلِ وَمَا وَسَقَ

3. QS Al-Insyiqaq ayat 18 (huruf qaf sukun karena waqaf)

وَٱلْقَمَرِ إِذَا ٱتَّسَقَ

4. QS Al-Insyiqaq ayat 19 (huruf qaf sukun karena waqaf)

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَن طَبَقٍ

5. QS Al-Buruj ayat 1 (huruf jim sukun karena waqaf)

وَٱلسَّمَآءِ ذَاتِ ٱلْبُرُوجِ

6. QS Al-Buruj ayat 2 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَٱلْيَوْمِ ٱلْمَوْعُودِ

7. QS Al-Buruj ayat 3 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَشَاهِدٍ وَمَشْهُودٍ

8. QS Al-Buruj ayat 4 (huruf dal sukun karena waqaf)

قُتِلَ أَصْحَٰبُ ٱلْأُخْدُودِ

9. QS Al-Buruj ayat 5 (huruf dal sukun karena waqaf)

ٱلنَّارِ ذَاتِ ٱلْوَقُودِ

10. QS Al-Buruj ayat 6 (huruf dal sukun karena waqaf)

إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ

11. QS Al-Buruj ayat 7 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَهُمْ عَلَىٰ مَا يَفْعَلُونَ بِٱلْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ

12. QS Al-Buruj ayat 8 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَمَا نَقَمُوا۟ مِنْهُمْ إِلَّآ أَن يُؤْمِنُوا۟ بِٱللَّهِ ٱلْعَزِيزِ ٱلْحَمِيدِ

13. QS Al-Buruj ayat 9 (huruf dal sukun karena waqaf)

ٱلَّذِى لَهُۥ مُلْكُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضِ ۚ وَٱللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَىْءٍ شَهِيدٌ

14. QS Al-Buruj ayat 10 (huruf qaf sukun karena waqaf)

إِنَّ ٱلَّذِينَ فَتَنُوا۟ ٱلْمُؤْمِنِينَ وَٱلْمُؤْمِنَٰتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا۟ فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ ٱلْحَرِيقِ

15. QS Al-Buruj ayat 12 (huruf dal sukun karena waqaf)

إِنَّ بَطْشَ رَبِّكَ لَشَدِيدٌ

16. QS Al-Buruj ayat 13 (huruf dal sukun karena waqaf)

إِنَّهُۥ هُوَ يُبْدِئُ وَيُعِيدُ

17. QS Al-Buruj ayat 14 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَهُوَ ٱلْغَفُورُ ٱلْوَدُودُ

18. QS Al-Buruj ayat 15 (huruf dal sukun karena waqaf)

ذُو ٱلْعَرْشِ ٱلْمَجِيدُ

19. QS Al-Buruj ayat 16 (huruf dal sukun karena waqaf)

فَعَّالٌ لِّمَا يُرِيدُ

20. QS Al-Buruj ayat 17 (huruf dal sukun karena waqaf)

هَلْ أَتَىٰكَ حَدِيثُ ٱلْجُنُودِ

21. QS Al-Buruj ayat 18 (huruf dal sukun karena waqaf)

فِرْعَوْنَ وَثَمُودَ

22. QS Al-Buruj ayat 19 (huruf ba sukun karena waqaf)

بَلِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فِى تَكْذِيبٍ

23. QS Al-Buruj ayat 20 (huruf tha sukun karena waqaf)

وَٱللَّهُ مِن وَرَآئِهِم مُّحِيطٌۢ

24. QS Al-Buruj ayat 21 (huruf dal sukun karena waqaf)

بَلْ هُوَ قُرْءَانٌ مَّجِيدٌ

25. QS At-Thariq ayat 1 (huruf qaf sukun karena waqaf)

وَٱلسَّمَآءِ وَٱلطَّارِقِ

26. QS At-Thariq ayat 2 (huruf qaf sukun karena waqaf)

وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلطَّارِقُ

27. QS At-Thariq ayat 3 (huruf ba sukun karena waqaf)

ٱلنَّجْمُ ٱلثَّاقِبُ

28. QS At-Thariq ayat 5 (huruf qaf sukun karena waqaf)

فَلْيَنظُرِ ٱلْإِنسَٰنُ مِمَّ خُلِقَ

29. QS At-Thariq ayat 6 (huruf qaf sukun karena waqaf)

خُلِقَ مِن مَّآءٍ دَافِقٍ

30. QS At-Thariq ayat 7 (huruf ba sukun karena waqaf)

يَخْرُجُ مِنۢ بَيْنِ ٱلصُّلْبِ وَٱلتَّرَآئِبِ

31. QS Al-Fajr ayat 6 (huruf dal sukun karena waqaf)

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

32. QS Al-Fajr ayat 7 (huruf dal sukun karena waqaf)

إِرَمَ ذَاتِ ٱلْعِمَادِ

33. QS Al-Fajr ayat 8 (huruf dal sukun karena waqaf)

ٱلَّتِى لَمْ يُخْلَقْ مِثْلُهَا فِى ٱلْبِلَٰدِ

34. QS Al-Fajr ayat 9 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَثَمُودَ ٱلَّذِينَ جَابُوا۟ ٱلصَّخْرَ بِٱلْوَادِ

Baca Juga : CONTOH QALQALAH SUGHRA JUZ 30 LENGKAP BAGIAN 1

35. QS Al-Fajr ayat 10 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَفِرْعَوْنَ ذِى ٱلْأَوْتَادِ

36. QS Al-Fajr ayat 11 (huruf dal sukun karena waqaf)

ٱلَّذِينَ طَغَوْا۟ فِى ٱلْبِلَٰدِ

37. QS Al-Fajr ayat 12 (huruf dal sukun karena waqaf)

فَأَكْثَرُوا۟ فِيهَا ٱلْفَسَادَ

38. QS Al-Fajr ayat 13 (huruf ba sukun karena waqaf)

فَصَبَّ عَلَيْهِمْ رَبُّكَ سَوْطَ عَذَابٍ

39. QS Al-Fajr ayat 14 (huruf dal sukun karena waqaf)

إِنَّ رَبَّكَ لَبِٱلْمِرْصَادِ

40. QS Al-Fajr ayat 25 (huruf dal sukun karena waqaf)

فَيَوْمَئِذٍ لَّا يُعَذِّبُ عَذَابَهُۥٓ أَحَدٌ

41. QS Al-Fajr ayat 26 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَلَا يُوثِقُ وَثَاقَهُۥٓ أَحَدٌ

42. QS Al-Balad ayat 1 (huruf dal sukun karena waqaf)

لَآ أُقْسِمُ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ

43. QS Al-Balad ayat 2 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَأَنتَ حِلٌّۢ بِهَٰذَا ٱلْبَلَدِ

44. QS Al-Balad ayat 3 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَوَالِدٍ وَمَا وَلَدَ

45. QS Al-Balad ayat 4 (huruf dal sukun karena waqaf)

لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِى كَبَدٍ

46. QS Al-Balad ayat 5 (huruf dal sukun karena waqaf)

أَيَحْسَبُ أَن لَّن يَقْدِرَ عَلَيْهِ أَحَدٌ

47. QS Al-Balad ayat 7 (huruf dal sukun karena waqaf)

أَيَحْسَبُ أَن لَّمْ يَرَهُۥٓ أَحَدٌ

48. QS Al-Insyirah ayat 7 (huruf ba sukun karena waqaf)

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

49. QS Al-Insyirah ayat 8 (huruf ba sukun karena waqaf)

وَإِلَىٰ رَبِّكَ فَٱرْغَب

50. QS Al-Alaq ayat 1 (huruf qaf sukun karena waqaf)

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

51. QS Al-Alaq ayat 2 (huruf qaf sukun karena waqaf)

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ

52. QS Al-Alaq ayat 19 (huruf ba sukun karena waqaf)

كَلَّا لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب

53. QS Al-Adiyat ayat 6 (huruf dal sukun karena waqaf)

إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لِرَبِّهِۦ لَكَنُودٌ

54. QS Al-Adiyat ayat 7 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَإِنَّهُۥ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ

55. QS Al-Adiyat ayat 8 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَإِنَّهُۥ لِحُبِّ ٱلْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

56. QS Al-Kafirun ayat 3 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ

57. QS Al-Kafirun ayat 5 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ

58. QS Al-Lahab ayat 1 (huruf ba sukun karena waqaf)

تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ

59. QS Al-Lahab ayat 2 (huruf ba sukun karena waqaf)

مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ


60. QS Al-Lahab ayat 3 (huruf ba sukun karena waqaf)

سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ

61. QS Al-Lahab ayat 4 (huruf ba sukun karena waqaf)

وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ

62. QS Al-Lahab ayat 5 (huruf dal sukun karena waqaf)

فِى جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍۭ

63. QS Al-Ikhlas ayat 1 (huruf dal sukun karena waqaf)

قُلْ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ

64. QS Al-Ikhlas ayat 2 (huruf dal sukun karena waqaf)

ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ

65. QS Al-Ikhlas ayat 3 (huruf dal sukun karena waqaf)

لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ

66. QS Al-Ikhlas ayat 4 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَلَمْ يَكُن لَّهُۥ كُفُوًا أَحَدٌۢ

67. QS Al-Falaq ayat 1 (huruf qaf sukun karena waqaf)

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ ٱلْفَلَقِ

68. QS Al-Falaq ayat 2 (huruf qaf sukun karena waqaf)

مِن شَرِّ مَا خَلَقَ

69. QS Al-Falaq ayat 3 (huruf ba sukun karena waqaf)

وَمِن شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ

70. QS Al-Falaq ayat 4 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَمِن شَرِّ ٱلنَّفَّٰثَٰتِ فِى ٱلْعُقَدِ

71. QS Al-Falaq ayat 5 (huruf dal sukun karena waqaf)

وَمِن شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

Demikian artikel berjudul "Contoh Qalqalah Kubra Juz 30 Lengkap". Untuk contoh-contoh hukum bacaan lain, dapat Anda cari di blog ini atau di kategori Contoh atau klik di sini. Para pembaca juga bisa request contoh hukum bacaan yang lain dengan cara berkomentar.

Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah

Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah -

Setelah membahas tentang Ha Dhamir dalam Mad Shilah, berikutnya merupakan pembagian Mad Shilah menjadi dua yaitu Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah. Apa pengertian Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah? Bagaimana cara membaca Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah? Apa contoh-contoh Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah? 


Pengertian dan Cara Membaca

Dalam artikel sebelumnya, telah dijelaskan tentang pengertian dan pembahasan terkait hukum bacaan Mad Shilah yaitu artikel berjudul "Mengenal Ha Dhamir dalam Mad Shilah". Mad Shilah ini terbagi menjadi dua yaitu Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah.

Secara bahasa, Mad Shilah Qashirah terdiri dari tiga kata yaitu Mad, Shilah, dan Qashirah. Mad artinya panjang, Shilah berarti sambung, dan  Qashirah bermakna pendek. Secara istilah Ilmu Tajwid, Mad Shilah Qashirah adalah memanjang ha' dhamir yang tidak bertemu dengan hamzah.

Cara membaca hukum bacaan Mad Shilah Qashirah adalah dengan memanjangkan sekitar 1 alif atau 2 harakat. Panjangnya sama dengan Mad Thabi'i sehingga kadang hukum ini dijadikan satu dengan Mad Thabi'i. Mad Shilah Qashirah juga biasa disebut dengan Mad Shilah Shughra. 

Secara bahasa, Mad Shilah Thawilah terdiri dari 3 kata juga yaitu Mad, Shilah, dan Thawilah. Mad artinya panjang, Shilah artinya sambung, dan Thawilah artinya panjang. Secara istilah Ilmu Tajwid, Mad Shilah Thawilah adalah memanjangkan ha' dhamir yang bertemu dengan hamzah.



Cara membaca hukum bacaan Mad Shilah Thawilah adalah dengan memanjangkan sekitar 4 atau 5 harakat (2 atau 2,5 alif). Panjangnya sama dengan Mad Jaiz Munfashil sehingga kadang hukum ini dijadikan satu dengan Mad Jaiz Munfashil. Mad Shilah Qashirah juga biasa disebut dengan Mad Shilah Kubra.

Baca Juga : MAD BADAL

Contoh-Contoh

Contoh-contoh hukum bacaan Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah dapat ditemukan di banyak tempat dalam al-Quran. Kunci utama untuk menemukan hukum bacaan Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah adalah Ha Dhamir yang dibaca panjang.

Jika Ha Dhamir nya dibaca panjang biasa (2 harakat) maka terdapat hukum bacaan Mad Shilah Qashirah. Sedangkan jika Ha Dhamir nya dibaca panjang dan bertemu hamzah, serta biasanya terdapat tanda (dhabth) garis melengkung madd, maka terdapat hukum bacaan Mad Shilah Thawilah.

Beberapa contoh hukum bacaan Mad Shilah Qashirah:

1. QS Al-Ikhlas ayat 4

وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ

2. QS Al-Adiyat ayat 4 

فَاَثَرْنَ بِهٖ نَقْعًاۙ

Beberapa contoh hukum bacaan Mad Shilah Thawilah:

1. QS Al-Humazah ayat 3

يَحْسَبُ اَنَّ مَالَهٗٓ اَخْلَدَهٗۚ

2. QS Al-Muthaffifin ayat 12

وَمَا يُكَذِّبُ بِهٖٓ اِلَّا كُلُّ مُعْتَدٍ اَثِيْمٍۙ

Pertanyaan-Pertanyaan

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan-pertanyaan seputar hukum bacaan Mad Shilah Qashirah dan Mad Shilah Thawilah, yang mungkin juga merupakan pertanyaan para pembaca. Para pembaca atau pengunjung dapat mengajukan pertanyaan dengan cara menulis di kolom komentar.

Baca Juga : IDGHAM MUTAMATSILAIN

Q : Kenapa dinamakan Shilah dalam hukum bacaan Mad Shilah?

A : Dinamakan Shilah dalam hukum bacaan Mad Shilah adalah karena membaca panjang pada Ha Dhamir nya. Apabila dibaca pendek Ha Dhamir nya maka disebut Qashr. Shilah bermakna sambung, disebut demikian karena Ha Dhamir disambungkan dengan wawu atau ya mad secara lafadz.



Q : Kenapa dinamakan Qashirah dan Thawilah dalam hukum bacaan Mad Shilah?

A : Dinamakan Qashirah dan Thawilah dalam hukum bacaan Mad Shilah karena berbeda panjangnya. Meskipun Qashirah bermakna pendek, namun yang dimaksud adalah panjang biasa (2 harakat). Sedangkan Thawilah yang berarti panjang, namun yang dimaksud adalah panjang lebih dari panjang biasa (lebih dari 2 harakat).

Q : Panjang hukum bacaan Mad Shilah Thawilah adalah 4 atau 5 harakat (2 atau 2,5 alif). Mana yang lebih diutamakan?

A : Dalam kitab al-Mufid fi Ilm at-Tajwid disebutkan bahwa panjang hukum bacaan Mad Shilah Thawilah sama dengan Mad Jaiz Munfashil. Begitu juga dengan pilihan panjang yang utama. Diutamakan menggunakan bacaan panjang 4 harakat (2 alif).

Macam-macam Makhraj

Macam-Macam Makhraj -

Makhraj atau biasa disebut Makharijul Huruf adalah tempat-tempat keluarnya huruf hijaiah. Berbicara tentang macam-macam Makhraj Huruf Hijaiah, terdapat beberapa macam atau jenisnya dan itu tergantung ditinjau dari segi mana ia dilihat.

Setidaknya ada dua segi pembagian makhraj, yang masing-masing terbagi menjadi dua sehingga total ada empat macam-macam makhraj. Keempat macam-macam makhraj tersebut adalah makhraj muhaqqaq, muqaddar, ammah, dan khashshah. 

Makhraj Muhaqqaq dan Muqaddar

Dalam kitab al-Mufid fi Ilm at-Tajwid, ketika menerangkan pengertian dari makharijul huruf dijelaskan bahwa huruf-huruf hijaiah itu keluar dari dua makhraj (tempat keluar) yaitu Makhraj Muhaqqaq dan Makhjra Muqaddar. Kedua makhraj ini ditinjau atau dilihat dari segi tampak tidaknya makhraj atau dari segi jelas tidaknya makhraj tersebut.

Makhraj Muhaqqaq adalah tempat keluarnya huruf yang bersandar pada bagian tubuh tertentu seperti al-Halq (tenggorokan), al-Lisan (lidah), al-Khaisyum (hidung), dan as-Syafah (bibir). Muhaqqaq yang seakar kata dengan tahqiq memiliki makna "nyata" sehingga makhraj yang ditunjuk jelas letak dan posisinya.

Sedangkan Makhraj Muqaddar adalah tempat keluarnya huruf yang tidak bersandar pada bagian tubuh tertentu. Dengan kata lain, makhraj hurufnya tidak nampak jelas letak dan posisinya. Muqaddar bermakna "dikira-kirakan". Contoh makhraj muqaddar adalah al-Jauf (rongga dari mulut ke tenggorokan).

Makhraj Ammah dan Khashshah

Masih dalam kitab yang sama, penulis kitab membagi macam-macam makhraj menjadi dua macam yang akan dibahas yakni Makhraj Ammah dan Khashshah. Berbeda dengan pembagian sebelumnya, penulis kitab hanya memaparkannya dalam pengertian makhraj. Sedangkan yang ini ditulis dalam sub bab pembagian makhraj.

Sesuai namanya, pembagian makhraj-makhraj ini ditinjau atau dilihat dari segi umum dan khususnya. Ammah artinya umum, sedangkan Khashshah artinya khusus. Makhraj Ammah (Amm) juga biasa disebut Makhraj Raisiyyah, sedangkan Makhraj Khashshah kadang disebut Makhraj Far'iyyah.

Makhraj Khashshah merupakan bagian dari Makhraj Ammah. Makhraj Khashshah adalah tempat keluar yang ditempati oleh satu huruf (minimal) atau lebih. Salah satu contoh Makhraj Khashshah adalah pangkal lidah bagian dalam merupakan tempat keluarnya huruf Qaf.

Sedangkan Makhraj Ammah adalah tempat keluar yang terdiri dari (minimal) satu Makhraj Khashshah atau lebih. Hemat penulis, Makhraj Ammah adalah anggota-anggota tubuh semisal lidah, tenggorokan, dan lain-lain. Contohnya, Makhraj Ammah tenggorokan terdiri dari 3 Makhraj Khashshah.

Kitab : al-Mufid fi Ilm at-Tajwid

Mad Aridh Lissukun

Mad Aridh Lissukun -

Salah satu dari hukum bacaan Mad Far'i yang berkaitan dengan bacaan waqaf adalah Mad Aridh Lissukun (Mad Aridh Lis-Sukun atau Mad Aridh Li as-Sukun). Apa pengertian dari hukum bacaan Mad Aridh Lissukun? Apa saja contoh-contoh hukum bacaan Mad Aridh Lissukun? Dan apa pertanyaan-pertanyaan seputar Mad Aridh Lissukun? Berikut ulasannya.

Pengertian Mad Aridh Lissukun

Secara bahasa, Mad Aridh Lissukun (مَدُّ عَارِضٍ لِلسًّكُوْنِ) terdiri dari 3 kata yaitu Mad, Aridh, dan Lissukun. Mad artinya panjang atau memanjangkan. Aridh bermakna tiba-tiba atau baru muncul. Sedangkan Lissukun yang merupakan gabungan dari Li dan as-Sukun, artinya sebab sukun.

Secara istilah Ilmu Tajwid, Mad Aridh Lissukun adalah memanjangkan bunyi huruf mad yang bertemu dengan huruf sukun karena waqaf. Cara membaca hukum bacaan Mad Aridh Lissukun dengan dibaca panjang 2, 4, atau 6 harakat.

Contoh Mad Aridh Lissukun

Contoh-contoh hukum bacaan Mad Aridh Lissukun dapat dengan mudah ditemukan di al-Quran. Biasanya hukum bacaan Mad Aridh Lissukun terletak di akhir ayat. Kadang ditemui juga di tengah-tengah ayat asalkan syarat-syaratnya terpenuhi. 


Perhatikan contoh-contoh di bawah ini! Kata yang berwarna merah mengandung hukum bacaan Mad Aridh Lissukun. Masing-masing kata harus dibaca waqaf agar memenuhi syarat Mad Aridh Lissukun. Berikut contoh-contohnya:

1. QS An-Naba ayat 2
عَنِ النَّبَإِ الْعَظِيمِ

2. QS At-Takatsur ayat 5
كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ

3. QS Al-Buruj ayat 2
وَالْيَوْمِ الْمَوْعُودِ

Pertanyaan-Pertanyaan

Berikut ini adalah beberapa pertanyaan-pertanyaan seputar hukum bacaan Mad Aridh Lissukun, yang mungkin juga merupakan pertanyaan para pembaca. Para pembaca atau pengunjung dapat mengajukan pertanyaan dengan cara menulis di kolom komentar.

Q : Berapa panjang hukum bacaan Mad Aridh Lissukun?
A : Panjang hukum bacaan Mad Aridh Lissukun adalah 2, 4, atau 6 harakat. Boleh memilih salah satu dari ketiga ukuran panjang. Dan harus konsisten ketika telah memilih salah satu dari ketiga ukuran panjang tersebut.

Q : Kenapa dinamakan Aridh Lissukun dalam hukum bacaan Mad Aridh Lissukun?
A : Aridh berarti tiba-tiba atau baru muncul. Dinamakan demikian karena hukum bacaan ini baru muncul atau terjadi jika memenuhi syaratnya. Dinamakan Lissukun karena syaratnya adalah sukun karena waqaf.

Makhraj Khaisyum Lengkap

Makhraj Khaisyum Lengkap -

Salah satu anggota tubuh yang juga merupakan tempat keluarnya huruf hijaiah adalah rongga hidung atau sering disebut sebagai khaisyum. Khaisyum juga seringkali menjadi makhraj yang kadangkala disalahpahami dimana ada yang menggunakan rongga hidung padahal tidak membaca huruf khaisyum.

Berapa banyak huruf yang tempat keluar (makhraj) nya melalui rongga hidung? Ada dua huruf yang tempat keluarnya berada di khaisyum yaitu huruf nun dan mim. Namun mungkin lebih tepat bila menyebut makhraj khaisyum merupakan tempat keluarnya dengung atau Ghunnah.

Mengapa demikian? Karena pada dasarnya makhraj huruf nun dan mim sudah terdapat di tempat lain. Makhraj (tempat keluar) huruf nun berada di bagian lidah (lisan) tepatnya di ujung tepi lidah. Sedangkan makhraj huruf mim berada di bagian bibir tepatnya di syafatayn atau dua bibir bersamaan.

Berkenaan makhraj khaisyum, kedua huruf ini yakni nun dan mim juga masih memiliki sifat dengung entah itu sedikit atau banyak. Dan oleh karenanya, makhraj nun dan mim ini lebih dominan dimiliki oleh huruf nun dan mim bertasydid karena keduanya merupakan ghunnah tertinggi. Untuk lebih jelasnya, baca sifat Ghunnah atau klik di sini



Perhatikan syair Ibn Jazari berikut ini

وَغُـنَّــةٌ مَخْـرَجُـهَـا  الخَـيْـشُـومُ

dan Ghunnah, tempat keluarnya adalah khaisyum

Dari syair tersebut, nampak jelas bahwa makhraj Khaisyum dimiliki oleh huruf Ghunnah. Untuk membuktikan bahwa ghunnah itu ada, silahkan baca nun atau mim bertasydid dengan menutup hidung, maka niscaya pengucapan ghunnah nya tidak akan bisa karena makhraj nya tertutup. Wallahu a'lam..