Perbedaan Nuqthah I'rab dan Nuqthah I'jam
Dalam pembahasan ilmu dhabth atau ilmu tanda baca al-Quran, tak jarang kita mendengar istilah nuqthah i'rab dan nuqthah i'jam. Apa maksud dari istilah tersebut? Apa perbedaan antara kedua istilah ini? Apa fungsi dari keduanya?
Artikel ini membahas perbedaan antara nuqthah i'rab dan nuqthah i'jam dari berbagai sudut pandang. Mulai dari pengertian, fungsi, contoh, penemu, dan lain sebagainya. Sejarah dan perkembangan ilmu ini juga sudah kami bahas di artikel khusus.
Pengertian
Secara bahasa, nuqthah artinya titik, i'rab artinya penjelasan atau pengungkapan, dan i'jam artinya menguji atau menyeleksi. Secara istilah, nuqthah i'rab adalah tanda yang menunjukkan atau mengungkapkan perubahan bunyi huruf akhir dalam sebuah kata.
Sedangkan nuqthah i'jam adalah tanda yang menunjukkan perbedaan antara satu huruf dengan huruf lainnya dalam huruf hijaiah. Bisa juga diartikan sebagai tanda yang menyeleksi bentuk-bentuk yang semisal.
Fungsi
Sesuai pengertian dari kedua istilah tersebut, nuqthah i'rab berfungsi untuk menjelaskan pelafalan huruf terakhir dari sebuah kata. Agar pembaca dapat membaca apakah huruf terakhir itu berbunyi fathah, dhammah, maupun kasrah.
Sedangkan nuqthah i'jam berfungsi untuk membedakan satu huruf dengan huruf lainnya. Ini dilakukan karena bentuk satu huruf dengan huruf lainnya memiliki format atau bentuk yang serupa baik saat huruf ia bergabung atau sendirian.
Bentuk
Sesuai namanya, baik nuqthah i'rab dan nuqthah i'jam sama-sama menggunakan tanda berupa titik. Perbedaan terdapat pada penggunaan warna. Titik nuqthah i'rab menggunakan tinta warna warna, sedangkan titik nuqthah i'jam menggunakan warna hitam.
Letak
Titik nuqthah i'rab terletak di huruf terakhir sebuah kata. Jika titiknya berada di atas huruf tersebut maka itu adalah fathah. Jika berada di bawah huruf, maka kasrah. Jika berada di samping huruf tersebut maka itu menunjukkan dhammah.
Adapun titik nuqthah i'jam disesuaikan urutannya. Ada yang mendapatkan satu titik di atas (huruf nun, fa, ghain), satu titik di bawah (huruf jim dan ba), dua titik di atas (huruf ta dan qaf), dua titik di bawah (huruf ya), dan tiga titik di atas (huruf syin).
Jika ada pertanyaan terkait sistem pemberian titik itu bagaimana, maka silakan baca artikel khusus yang telah kami tulis di situs ini atau CARI DI SINI. Anda dapat membaca artikel seputar tanda baca al-Quran di daftar isi tersebut.
Penggagas
Mayoritas sepakat bahwa ulama yang ditunjuk dan bertugas sebagai pemberi tanda baca al-Quran adalah Abu al-Aswad ad-Duali. Beliau memberikan titik yang menjelaskan bunyi huruf terakhir dari sebuah kata atau yang disebut nuqthah i'rab.
Adapun nuqthah i'jam, ada yang mengatakan Abu al-Aswad ad-Duali juga yang menggagas hal itu. Namun beberapa ulama berpendapat bahwa yang bertugas mengerjakan terkait itu adalah Yahya bin Ya'mar dan Nashr bin Ashim.
Perkembangan
Di masa sekarang ini, nuqthah i'rab mengalami perkembangan. Jika di masa awal menggunakan titik, maka nuqthah i'rab sekarang menggunakan garis-garis seperti harakat, sukun, tasydid, mad, dan lain sebagainya.
Penggunaan namanya pun juga berubah dari nuqthah i'rab menjadi syakl atau tasykil. Adapun nuqthah i'jam masih sama bentuk tandanya dan juga masih sama penggunaan istilahnya. Ini menunjukkan peran yang penting bagi keduanya sehingga dibutuhkan oleh masyarakat luas.
Demikian artikel berjudul "Perbedaan Nuqthah I'rab dan Nuqthah I'jam". Untuk membaca artikel lain seputar ilmu dhabth, silakan KLIK DI SINI. Berikan kami masukan dan pertanyaan dengan menulisnya di komentar.
