Ringkasan Kitab Ghayat al-Murid fi Ilm at-Tajwid (Bag-2)
Artikel ini merupakan kelanjutan dari artikel sebelumnya yang membahas daftar isi, pembahasan macam-macam tajwid, penjelasan hukum nun sukun dan tanwin, dan hukum-hukum lam sukun. Untuk mengaksesnya, silakan cari dan KLIK DI SINI.
Artikel ini tidak menerjemahkan keseluruhan melainkan hanya sekilas dari isi yang mungkin berbeda atau menarik untuk ditinjau ulang. Untuk membaca secara lengkap, Anda dapat membaca kitab yang berbahasa Arab atau Indonesia (jika ada).
Mad dan Qashr
Secara bahasa, Mad artinya panjang. Secara istilah, Mad adalah memanjangkan suara huruf mad atau lin dengan adanya sebab. Lawan kata dari Mad adalah Qashr yang secara bahasa artinya mencegah. Secara istilah, adalah menetapkan huruf mad atau lin tanpa adanya tambahan.
Sebenarnya yang dimaksud dengan Mad adalah membaca panjang berapa pun meskipun hanya 2 harakat. Begitu pula Qashr. Namun istilah dalam ilmu tajwid menjadikannya bahwa qashr itu kira-kira 2 harakat dan mad itu lebih dari 2 harakat.
Huruf mad itu ada tiga. Ada yang mengatakan itu huruf mad dan lin. Ketiganya adalah alif yang selalu sukun dan didahului harakat fathah, ya sukun yang didahului harakat kasrah, dan wawu sukun yang didahului harakat dhammah.
Kesimpulannya, alif dapat dikatakan sebagai huruf mad dan lin. Sedangkan wawu dan ya memiliki tiga kondisi. Pertama, disebut huruf mad dan lin jika keduanya sukun yang sebelumnya berharakat dhammah untuk wawu dan kasrah untuk ya.
Kedua, disebut huruf lin saja jika keduanya sukun namun sebelumnya berharakat fathah. Ketiga, disebut huruf illat saja jika keduanya berharakat dengan harakat apa pun. Dan ini bukan termasuk dalam pembahasan Mad ini.
Sebutan dan Nama Mad
Sebagian Ulama tajwid telah memberikan sebutan atau nama yang bermacam-macam untuk hukum mad. Di antaranya, satu, Mad Shilah. Ini terjadi ketika memanjangkan ha dhamir yang dapat berharakat dhammah atau kasrah.
Kedua, mad tamkin. Yakni panjang sekitar 2 harakat yang wajib dibaca untuk memisahkan dua wawu atau dua ya yang dikhawatirkan akan terjadi idgham atau keteledoran dari membacanya. Ada juga yang mengatakan mad tamkin itu ya bertasydid yang berharakat kasrah.
Tiga, Mad Iwadh. Ini terjadi saat waqaf pada tanwin yang manshub atau fathatain. Keempat, mad Ta'zhim yaitu membaca panjang di kata la ilaha. Ini berlaku bagi mereka yang membaca pendek mad Jaiz Munfashil. Ada yang mengatakan ini mad Mubalaghah.
Kelima, Mad Farq. Istilah ini digunakan untuk alif yang menjadi ganti dari hamzah washal pada kata yang terdapat hukum Mad Farq. Dinamakan farq yang artinya beda, karena untuk membedakan antara istifham (kata tanya) dan khabar. Dan ini termasuk dalam pembagian mad Lazim Kalimi.
Tafkhim dan Tarqiq
Huruf hijaiah terbagi menjadi tiga macam. Pertama, huruf yang selalu tafkhim. Kedua, huruf yang selalu tarqiq. Ketiga, huruf yang di sebagian tempat dibaca tafkhim dan di sebagian tempat lain dibaca tarqiq.
Jenis pertama. Huruf yang selalu dibaca tafkhim adalah tujuh huruf yang memiliki sifat Isti'la. Kesemuanya ada yang lemah dan ada yang kuat tergantung dari sifat-sifat yang dimilikinya. Oleh karena itu, huruf yang memiliki sifat Ithbaq lebih kuat dari lainnya.
Adapun urutan ketujuh huruf itu dari mulai yang terkuat ke yang terlemah adalah huruf tha, dhad, shad, dza, qaf, ghain, dan kha. Adapun tingkatan tafkhim ada lima yaitu fathah setelahnya alif, fathah setelahnya bukan alif, dhammah, sukun, dan kasrah.
Jenis kedua. Huruf yang selalu dibaca tarqiq adalah huruf yang memiliki sifat istifal kecuali huruf alif, lam, dan ra. Jenis ketiga. Huruf yang di sebagian tempat dibaca tafkhim dan di sebagian tempat lain dibaca tarqiq. Huruf-huruf itu alif, lam, dan ra.
Huruf alif mengikuti huruf sebelumnya. Jika sebelumnya tafkhim, maka alif dibaca tafkhim. Begitu pula sebaliknya jika tarqiq. Ini berbeda dengan ghunnah karena tafkhim dan tarqiqnya mengikuti huruf sesudah ghunnah.
Huruf lam adakalanya berharakat dan sukun. Yang sukun telah dibahas sebelumnya. Yang masuk pembahasan tafkhim dan tarqiq adalah huruf lam yang berharakat. Pada dasarnya, huruf lam dibaca tarqiq baik ia berharakat fathah, dhammah, maupun kasrah.
Namun terdapat pengecualian untuk lam dalam lafal Allah. Jika terletak setelah fathah dan dhammah, maka huruf lam dibaca tafkhim. Sebaliknya, jika sebelumnya adalah harakat kasrah maka ia kembali dibaca tarqiq.
Huruf ra memiliki 4 kondisi di dalam al-Quran. Pertama, ra yang selalu dibaca tarqiq. Kedua, ro yang selalu dibaca tafkhim. Ketiga, ro boleh dibaca keduanya namun tafkhim lebih utama. Keempat, boleh dibaca keduanya namun tarqiq lebih utama.
Ro selalu dibaca tarqiq ada 8 macam: ro kasrah, ro imalah, ro kasrah secara washal yang dibaca roum waqaf, ro sukun asli di tengah kata setelah kasrah asli dan setelahnya tidak ada isti'la, ro sukun asli di akhir kata dan sebelumnya kasrah, ro sukun waqaf, ro sukun waqaf yang didahului sukun shohih, dan ro sukun waqaf yang didahululi ya sukun.
Ro yang boleh dibaca keduanya namun lebih baik dibaca tarqiq ada empat jenis. Jenis pertama yaitu waqaf pada kata nuzhur dan yasr. Kedua, waqaf pada kata fa'asri dan sejenisnya. Ketiga, waqaf pada kata Qithr. Keempat, ro sukun pada kata firqin.
