Ibdal Hamzah dalam al-Quran
Pembahasan kata iituunii mungkin sering didengar oleh para pembaca al-Quran. Namun bagaimana dengan istilah Ibdal Hamzah? Sepertinya istilah ini jarang didengar dan disampaikan penjelasan serta tempat-tempatnya di dalam al-Quran.
Pembahasan kata iituunii telah dijelaskan dalam satu artikel khusus dan terperinci yang dapat Anda baca dengan cara KLIK DI SINI. Anda perlu membaca artikel itu terlebih dahulu karena artikel ini merupakan sambungan atau lanjutan dari artikel tersebut.
Pengertian Ibdal Hamzah
Secara bahasa, Ibdal Hamzah terdiri dari dua kata yaitu Ibdal artinya mengganti dan Hamzah artinya huruf hamzah. Secara istilah, Ibdal Hamzah adalah mengganti huruf hamzah sukun dengan huruf Mad yang sesuai harakat hamzah sebelumnya.
Istilah Ibdal hamzah biasanya populer digunakan dalam ilmu Shorof. Kaidah Ibdal ini merupakan kaidah umum dalam bahasa Arab. Dalam sharaf, Ibdal Hamzah diartikan sebagai mengganti huruf hamzah dengan huruf illat berupa alif, wawu, atau ya.
Cara kerja Ibdal hamzah dalam ilmu Tajwid sama dengan ilmu Shorof karena memang ini merupakan kaidah dasar dalam ilmu Nahwu Shorof. Ibdal hamzah terjadi jika ada dua hamzah dimana hamzah pertama berharakat dan hamzah kedua sukun.
Ibdal (penggantian) terjadi pada hamzah kedua yang sukun. Diganti sesuai harakat hamzah pertama. Jika hamzah pertama fathah, maka hamzah kedua alif. Jika dhammah, maka wawu sukun. Dan jika kasrah, maka ya sukun. Perhatikan contoh di bawah ini!
ءَأْمَنَ ⟸ ءَامَنَ
إِئْمَانٌ ⟸ إِيْمَانٌ
أُؤْتِيَ ⟸ أُوْتِيَ
Kaidah ini berlaku untuk semua hal yang memenuhi syarat tadi. Lalu bagaimana dengan Ibdal Hamzah dalam ilmu Tajwid? Konsep dan cara kerjanya masih sama. Namun dalam pengajaran tajwid disempitkan fokusnya pada kasus-kasus khusus.
Kasus khusus yang dimaksud adalah dua hamzah dimana hamzah pertama merupakan hamzah washal berharakat dan hamzah kedua merupakan hamzah sukun. Hamzah washal hanya berharakat jika dibaca sebagai permulaan atau ibtida'. Jika bukan ibtida', maka hamzah washal tidak terbaca.
Contoh yang populer terkait kasus khusus ini adalah kata iituunii dalam QS Al-Ahqaf ayat 4. Hamzah pertama yang berbunyi kasrah merupakan hamzah washal yang diharakati karena ibtida' atau memulai bacaan dari kata tersebut.
Contoh Ibdal Hamzah
Apakah ibdal hamzah hanya terjadi di QS Al-Ahqaf ayat 4 saja? Tidak. Selama memenuhi syarat kaidah Ibdal, maka cara kerja dan bacanya sama sebagaimana kata iituunii. Misalnya kata u'tumina dalam QS Al-Baqarah ayat 283. Perhatikan potongan ayat di bawah ini
فَإِنْ أَمِنَ بَعْضُكُم بَعْضًا فَلْيُؤَدِّ ٱلَّذِى ٱؤْتُمِنَ أَمَٰنَتَهُۥ وَلْيَتَّقِ ٱللَّهَ رَبَّهُۥ
Jika membaca dari kata sebelumnya, maka kata u'tumina tidak berubah. Tetapi jika memulai membaca di kata u'tumina maka berlaku kaidah Ibdah Hamzah sehingga hamzah kedua yang sukun diganti dengan wawu sukun menyesuaikan harakat hamzah washal.
ٱؤْتُمِنَ ⟸ اُوْتُمِنَ
Dari mana hamzah washal berharakat dhammah? Silakan baca artikel khusus tentang cara baca hamzah washal atau KLIK DI SINI. Contoh lainnya masih dapat ditemukan beberapa di dalam al-Quran. Misalnya kata i'dzan dalam QS At-Taubah ayat 49. Perhatikan ayat di bawah ini.
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ ٱئْذَن لِّى وَلَا تَفْتِنِّىٓ ۚ أَلَا فِى ٱلْفِتْنَةِ سَقَطُوا۟ ۗ وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌۢ بِٱلْكَٰفِرِينَ
Jika membaca awal dari kata i'dzan, maka hamzah kedua yang sukun diganti dengan huruf ya sukun karena menyesuaikan harakat hamzah washal yang terbaca dengan harakat kasrah. Demikian seterusnya berlaku untuk kata-kata lain yang semisal.
ٱئْذَنْ ⟸ اِيْذَنْ
Contoh lainnya adalah kata i'tina di beberapa ayat. Misalnya dalam QS Al-A'raf ayat 77
فَعَقَرُوا۟ ٱلنَّاقَةَ وَعَتَوْا۟ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِمْ وَقَالُوا۟ يَٰصَٰلِحُ ٱئْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ
Contoh lainnya adalah kata i'tiya dalam QS Fushshilat ayat 11
ثُمَّ ٱسْتَوَىٰٓ إِلَى ٱلسَّمَآءِ وَهِىَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ٱئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَآ أَتَيْنَا طَآئِعِينَ
Demikian artikel berjudul "Ibdal Hamzah dalam al-Quran". Untuk membaca artikel lain seputar tajwid lengkap dari Nun sukun hingga tajwid lanjutan, silakan KLIK DI SINI. Anda bisa berkomentar tentang judul artikel atau pertanyaan juga.
