Ringkasan Kitab Taysir ar-Rahman fi Tajwid al-Quran
Salah satu referensi buku tajwid berbahasa Arab yang cukup lengkap adalah kitab Taysir ar-Rahman fi Tajwid al-Quran yang ditulis oleh Sa'ad Abdul Hamid yang sudah dicek dan diulas oleh Syekh Ahmad Mustofa Abu Hasan dan Syekh Mahmud Amin Tantawi.
Kitab ini pertama kali cetak dan terbit pada tahun 2001 di Kairo Mesir. Kitab ini sudah memasuki masa cetak keempat karena banyak yang membaca dan menjadikan kitab ini sebagai salah satu rujukan tajwid. Kitab ini sendiri memiliki lebih dari 300 halaman.
Kitab ini secara garis besar memiliki 9 bab utama yaitu keutamaan al-Quran, dasar-dasar ilmu tajwid, cara mengeluarkan suara, sifat-sifat huruf, hubungan antar huruf, mad dan qashr, waqaf, tentang rasm, dan maqthu' mawshul.
Pembahasan tentang ringkasan kitab Taysir ar-Rahman fi Tajwid al-Quran akan dibagi ke beberapa artikel atau bagian. Anda dapat mengecek masing-masing bagian atau membaca ringkasan kitab tajwid lainnya dengan cara KLIK DI SINI.
Bab 1 : Keutamaan Al-Quran
Di bab ini, penulis menjelaskan bermacam-macam hal seperti keutamaan al-Quran dan sejarah al-Quran. Sub bab sejarah al-Quran yang diulas cukup lengkap mulai dari penulisan al-Quran masa Nabi hingga pembahasan ahruf as-Sab'ah.
Pada masa Nabi, al-Quran dijaga dengan dua cara yaitu ditulis (fi as-suthur) dan dihafal (fi as-shudur). Pada masa Abu Bakar dilakukan pengumpulan al-Quran (jam'u al-Quran), sedangkan masa Usman bin Affan terjadi tadwin al-Quran atau kodifikasi.
Mushaf yang telah distandarisasi atau tadwin oleh Usman disebut sebagai mushaf Imam pada waktu itu. Kemudian disebar ke enam lokasi yaitu Basrah, Kufah, Syam, Mekkah, Madinah Am, dan Madinah Khas. Ada juga yang mengatakan 8 lokasi dengan menambahkan Yaman dan Bahrain.
Dari kelima lokasi utama itu terbentuklah pusat bagi masing-masing qiraat yang berbeda-beda. Di Madinah ada Imam Abu Ja'far dan Imam Nafi'. Di Mekkah ada Imam Ibn Katsir. Lalu Imam Ashim, Hamzah, dan al-Kisai yang berada di Kufah.
Sedangkan di daerah Basrah diwakili oleh Imam Abu Amr dan Imam Ya'qub. Lalu terakhir daerah Syam ada Imam Ibn Amir. Saat memasuki abad 3 Hijriah, ada Imam Mujahid yang berusaha menetapkan 7 bacaan qiraat dengan para imam dan perawinya.
Bab 2 : Mabadi' Tajwid
Dasar-dasar atau Mabadi' ilmu Tajwid juga dijelaskan dalam kitab ini. Mabadi' dalam ilmu agama terbagi menjadi 10 bagian yaitu definisi, nama, objek, manfaat, sandaran, pelopor, keutamaan, problematika, rujukan, dan hukum syariat mempelajarinya.
Lahn terbagi menjadi 2 yaitu lahn jali dan lahn khafi. Hukum lahn jali bagi yang sengaja maka berdosa. Jika lupa maka tidak berdosa. Sedangkan jika jahilan atau melalaikan belajar maka juga mendapatkan dosa.
Lahn khafi terbagi menjadi dua yaitu kesalahan yang hanya diketahui oleh orang yang awam qiraat seperti tidak membaca idgham, ikhfa, tafkhim, dan tarqiq. Yang kedua kesalahan yang hanya diketahui oleh orang yang mahir qiraat.
Ia juga menjelaskan rukun-rukun qiraat itu disebut sebagai shahih. Pertama, sesuai dengan bahasa Arab. Kedua, sesuai dengan rasm usmani. Ketiga, kesahihan sanad atau jalurnya mutawatir. Adapun tingkatan tilawah menurutnya adalah tahqiq, hadr, dan tadwir.
Pembahasan taawudz dan basmalah juga dibahas panjang di sini. Misalnya bagaimana hukum membaca taawudz yang disambung dengan pertengahan surah. Ini boleh selama ayat yang dibaca bukanlah ayat yang diawali dengan nama Allah atau dhamir yang kembali pada Allah dan Nabi.
Bab 3 : Cara Munculnya Suara
Di sini penulis menjelaskan bagaimana terjadinya suara, bagaimana terjadinya suara di alam, dan bagaimana terjadinya suara pada alat vokal manusia. Misalnya bagaimana suara muncul saat kita mengucapkan huruf ba yang berharakat fathah?
Suara huruf ba berfathah muncul karena dihasilkan dari titik artikulasi asalnya (makhraj) yaitu bibir dengan memisahkannya. Tidak benar jika dikatakan suara muncul akibat benturan karena benturan pasti membutuhkan proses tersendiri.
Ia juga membahas tentang itmam al-harakat atau penyempurnaan harakat. Ia menyoroti banyaknya kesalahan membaca al-Quran berasal dari kurangnya kesempurnaan harakat, baik itu tidak ada monyongnya bibir saat dhammah maupun kurang terbukanya saat fathah dan kurang kasrah.
Ada 4 poin penting yang ia tekankan terkait hal itu. Pertama, pembaca al-Quran harus membuka celah di antara rahang saat mengucapkan huruf yang terbuka dan berharakat fathah. Kedua, pembaca harus menyatukan bibirnya saat mengucapkan dhammah.
Ketiga, rahang bawah harus diturunkan saat mengucapkan harakat kasrah. Keempat, saat mengucapkan sukun maka harus berhati-hati agar tidak berlebihan dan melakukannya dengan lembut serta tanpa sembarangan.
