27 Juni 2026

Ringkasan Kitab Taysir ar-Rahman fi Tajwid al-Quran (Bag-2)

Artikel ini merupakan kelanjutan dari ringkasan kitab Taysir ar-Rahman fi Tajwid al-Quran karya Saad Abdul Hamid. Untuk membaca artikel sebelumnya atau ringkasan kitab-kitab tajwid lainnya bisa Anda lihat dengan cara KLIK DI SINI.

Artikel ini menjelaskan ringkasan dari bab 4 hingga 6 

Bab 4 : Makhraj dan Sifat Huruf

Bab ini memuat 4 fasal yaitu makharijul huruf, sifatul huruf, penjelasan huruf yang memiliki kemiripan sifat dan makhraj, dan hukum tafkhim tarqiq. Penulis menyatakan bahwa bab ini merupakan salah satu bab terpenting dalam ilmu tajwid sehingga harus benar-benar menguasainya.

Cara mengetahui makhraj suatu huruf ada beberapa langkah: menyukunkan atau mentasydidkan huruf, memasukkan hamzah washal, mengharakatkan hamzah tersebut sesuai kebutuhan, dan mengucapkan huruf serta mendengarkan suaranya dengan seksama.

Jumlah huruf hijaiah menurut pendapat yang sahih adalah 29 huruf. Huruf terbagi menjadi dua yaitu hurf maani dan mabani. Huruf maani adalah huruf yang memiliki makna sebagaimana pembagian dalam ilmu nahwu yaitu isim, fiil, huruf.

Adapun huruf mabani adalah huruf hijaiah yang menyusun kata. Ia terbagi menjadi dua yaitu asli dan far'i. Huruf hijaiah yang 29 huruf termasuk asli. Sedangkan far'i adalah huruf hamzah tashil, imalah alif, huruf isymam, alif tebal, lam tebal, nun ikhfa, dan mim ikhfa. Harakat juga ada yang asliyyah dan far'iyyah.

Penulis juga menyebutkan perbedaan pendapat Ulama terkait jumlah makhraj huruf. Namun yang dipilih adalah 17 makhraj. Pembahasan makhraj dan sifat kurang lebih sama dengan pembahasan pada umumnya. Anda bisa cek dalam situs kami.

Penulis menjelaskan hubungan antara huruf-huruf dari segi mengalirnya suara dan tidak serta dari segi mengalirnya nafas dan tidak. Ada lima kelompok yaitu huruf syiddah jahr, jahr rakhawah, mutawassit jahr, syiddah hams, dan hams rakhawah.

Di dalam bab ini penulis juga menyebutkan kesalahan-kesalahan dalam pengucapan setiap huruf, terutama berkaitan dengan sifat-sifatnya. Misalnya dalam huruf jim, maka wajib menjelaskannya saat sukun yang sesudahnya terdapat huruf ta atau zay atau sin.

Sedangkan saat membahas tafkhim tarqiq. Huruf hijaiah terbagi menjadi tiga macam: huruf yang selalu tafkhim, selalu tarqiq, dan kadang tafkhim maupun tarqiq. Tafkhim merupakan mustahiq huruf, sedangkan isti'la adalah hak huruf.

Bab 5 : Hubungan Antar Huruf

Bab ini memuat 4 fasal atau sub bab yang membahas: hubungan antar huruf, hukum nun sukun tanwin, hukum mim sukun, dan hukum lam sukun beserta nun mim bertasydid. Berkaitan dengan pertemuan atau hubungan antar huruf hijaiah, ia berkata:

"Setiap dua huruf yang bertemu, baik secara lafal dan tulisan sekaligus, seperti dua huruf lam pada kalimat hal lakum (هَل لَّكُم), maupun yang bertemu dalam tulisan saja, seperti dua huruf ha pada kalimat innahu huwa (اِنَّهٗ هُوَ), maka di antara keduanya terdapat suatu hubungan...."

"Yang menjadi ukuran dalam hal ini adalah pertemuan keduanya secara tulisan. Oleh karena itu, imam As-Susi mengidghamkan dua huruf ha pada lafal innahu huwa dan menganggap keduanya sebagai idgham kabir pada huruf-huruf yang sama atau mutamatsilain."

Sub bab nun sukun dan tawnin membahas beberapa hukum menjadi empat yaitu idzhar, idgham, iqlab, dan ikhfa. Ia juga menyinggung total ada 5 idzhar di dalam al-Quran yaitu Idzhar Halqi, Idzhar Syafawi, Idzhar Qamari, Idzhar Mutlaq, dan Idzhar Riwayah.

Adapun iqlab, ia menyebutkan ada tiga langkah untuk membaca Iqlab. Pertama, mengubah nun sukun atau tanwin menjadi mim murni dalam pelafalan bukan tulisan. Kedua, menyamarkan huruf mim ketika bertemu huruf ba.

Terkait penyamaran Iqlab, ia berpendapat bahwa tidak menutup atau menekan kedua bibir secara sempurna agar tdak menyerupai mim yang diidghamkan (tasydid). Jika ditutup rapat, maka terdengar sama persis dengan mim bertasydid. Langkah terakhir adalah mendengungkan.

Sub bab mim sukun membahas tiga hukum yaitu Ikhfa syafawi, idgham shaghir, dan idzhar syafawi. Idgham shaghir yang dimaksud sama dengan Idgham Mimi. Sub bab lam sukun terbagi menjadi lima macam yaitu lam ta'rif, lam fi'il, lam huruf, lam isim, dan lam amr.

Bab 6 : Mad dan Qashr

Qashr merupakan asal karena ia tidak membutuhkan sebab. Berbeda dengan mad yang membutuhkan sebab. Qashr secara istilah bermakna menahan. Secara istilah, Qashr adalah menetapkan huruf Mad dan Lin tanpa adanya tambahan panjangan karena tidak adanya sebab-sebab.

Huruf Mad berjumlah tiga yaitu wawu, alif, dan ya. Dengan syarat sebelum ketiga huruf tersebut terdapat huruf yang sesuai misalnya huruf wawu sukun didahului harakat dhammah. Sedangkan huruf Lin ada dua yaitu wawu dan sukun yang didahului harakat fathah.

Mad terbagi menjadi dua yaitu Mad Asli dan Far'i. Mad Asli atau Thabi'i terbagi menjadi dua yaitu Mad Thabi'i Kilmi dan Harfi. Mad Thabi'i Kilmi tetap ada baik washal maupun waqaf, baik pula huruf Mad nya tertulis secara rasm maupu tidak.

Mulhaq atau yang serupa dengan Mad Thabi'i ada dua jenis. Jenis pertama yaitu hanya ada saat waqaf bukan washal seperti mad Iwad, Shifr Mustathil, dan Huruf mad yang ada secara rasm tetapi tidak terbaca karena iltiqaus sakinain saat washal.

Jenis kedua adalah yang hanya ada ketika washal bukan waqaf. Ada dua contoh dalam jenis ini yaitu Mad Shilah dan perubahan mad thabi'i menjadi mad Arid Lissukun. Contoh kedua bukan berarti mad menghilang dalam keadaan waqaf melainkan berubah status.

Mad Thabi'i Harfi disebut juga sebagai Thabi'i Tsana'i adalah mad yang terdapat dalam huruf muqatha'ah yang biasa muncul sebagai pembuka di sebagian surah seperti Yasin, Taha, dan lain-lain. Huruf-huruf Mad Thabi'i harfi terdapat 5 yaitu Ha, Ya, Tha, Ha, dan Ro.

Adapun Mad Far'i disebabkan oleh dua hal, adakalanya sebab lafzhi maupun sebab maknawi. Sebab maknawi maksudnya mad yang disebabkan untuk tujuan mubalaghah atau ta'zhim misalnya mad dalam kata La Ilaha Illallah.

Sedangkan sebab lafzhi adalah sebab berupa hamzah atau sukun. Mad Far'i terbagi menjadi lima macam yaitu tiga disebabkan hamzah (Mad Muttashil, Mad Munfashil dan yang serupa, dan Mad Badal) dan dua disebabkan sukun (Mad Lazim dan Mad Aridh Lissukun).

Hukum Mad Far'i terbagi menjadi tiga. Pertama, wujub atau wajib yang khusus untuk Mad Muttashil. Kedua, Jawaz atau boleh bagi Mad Munfashil, Arid Lissukun, dan badal. Ketiga, Luzum atau wajib bagi Mad Lazim.

Comments

KOMENTARMU ADALAH DOAMU!
-
-
NB : Admin tdk dpt balas komentar karna error. Silahkan chat via ikon FB Messenger di pojok kanan bawah atau email ke yatlunahuhaq[at]gmail[dot]com untuk fast respon
EmoticonEmoticon